• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Secara hukum alam pria mendominasi wanita secara fisik maupun emosi karena dianggap lebih lemah. Pria dan wanita memang ditakdirkan memiliki perbedaan, namun perbedaan tersebut justru mengikat mereka melalui hasrat dan ketertarikan. Sofia Coppola sutradara wanita yang dulu sangat sukses dengan film romance "Lost In Translation" 2007 lalu, mencoba mengekspresikan wujud interaksi antara wanita dan pria dalam wujud yang paling darkly dari sebuah karya film terbarunya, The Beguiled yang artinya "memperdaya", "menipu", "mempermainkan". Film ini sendiri seolah kentara bermain dengan unsur psycho-thriller, dimana atmosfer juga tatanan visual dark dan vintage yang kusam membuatnya terasa sangat kelam.

Bersetting tahun 1864 di kota Virginia, Amerika Serikat atau lebih tepatnya 3 Tahun menjelang perang sipil. The Beguiled bercerita tentang seorang pria misterius tak dikenal, Corporal McBurney (Colin Farrell) mengklaim dirinya adalah tentara yang berhasil kabur dari medan perang sipil. Seorang gadis, Amy (Oona Laurence) yang tengah mencari jamur di dalam hutan menemukannya tergeletak tak berdaya dengan kaki terluka memintanya pertolongan. Amy yang merasa kasihan lalu membawanya ke tempat ia tinggal, sebuah sekolah sekaligus asrama wanita. Tentu saja kedatangan tamu tak di undang, McBurney mengejutkan Miss Martha (Nicole Kidman), guru sekaligus pemilik dan pengurus sekolah, Edwina (Kirsten Dunst) seorang guru tunggal, dan para murid mereka Alicia (Elle Fanning), Jane (Angourie Rice), Mary (Addison Riecke), dan Emily (Emma Howard).


Saya sebenarnya agak bingung mengkategorikan film The Beguiled sebagai thriller suspense, meski seperti yang sudah saya katakan film yang diadaptasi dari novel Thomas Cullinan berjudul sama ini agak terasa kurang menegangkan dan terkesan lebih tipikal. Ya, beberapa faktor kekurangan film ini terutama dari segi narasi cerita yang rasanya menjadi asal muasal film yang mencoba menyulap konflik wanita-pria-wanita terasa lemah. Filmnya hampir terasa datar dan beberapa scene terasa repetitif.

Seperti yang saya tahu wanita-wanita ini berada dalam lingkungan yang jauh dari lingkungan sosial masyarakat kota, beradaptasi dengan lingkungan yang sunyi jauh dari perkotaan, ditambah kecamuk perang sipil yang bergejolak. Rasa paranoid akan keadaan hingga kemunculan sosok McBurney yang identitasnya hanya diketahui dari mulutnya entah benar atau tidak, menambah kecurigaan berdasar, apalagi isu pemerkosaan yang disebut-sebut sering dialami wanita oleh para tentara musuh selama perang semakin membuat sosok pria semakin berbahaya. Tapi, filmnya membaur secara lebih kompleks, kehadiran pria oleh para wanita di film ini memiliki perspektif berbeda saat interaksi dilakukan dengan pria (apalagi tampan) secara langsung dan terbuka, dari yang polos sampai yang genit. Hingga terjadi kedekatan asmara, cinta dan nafsu diantara mereka menimbulkan kecemburuan.


Sayangnya film ini diperburuk oleh naskah cerita, filmnya membingungkan dengan banyaknya kontradiksi yang ada, *SPOILER* semisal identitas McBurney yang samasekali tak pernah diketahui apa ia betul-betul seorang tentara atau bukan, atau perbuatan yang dilakukan Miss Martha sesungguhnya karena paranoid, cemburu atau panik saat memotong kaki McBurney, hingga melakukan pembunuhan keji disertai menyeret para gadis-gadis polos dan tak berdosa untuk melakukan rencana keji tersebut dengan rasa tak berdosa *SPOILER END*. Hasrat dan nafsu yang ditekankan oleh Sofia Coppola terasa lemah dan rasanya Coppola kurang pandai memancing kekacauan dan buruknya pengenalan karakter yang ada. Untungnya akting semacam Nicole Kidman masih mengadiksi melalui tatapan matanya yang tajam, memancing paranoid, otorisasi, penolakan dan kebencian meski kita tahu ia hanya mencoba melindungi para gadis dan sedikitnya selalu bersikap baik dan ramah, entah ia baik atau jahat saya pun kurang mengerti. Kirsten Dunst berlaku pada wanita dewasa yang lemah, mudah diperdaya dan jauh lebih polos dari yang saya duga. Hingga yang tak habis pikir, Elle Fanning tetap harus berkutat dengan akting "liar"-nya selain "20th Century Women" dan "The Neon Demon", but it's okay melihat parasnya yang muda dan cantik, tapi raut wajahnya memang selalu terkesan labil dan sedikit-sedikit horny. Dan Collin Farrell, tipikal pria yang suka memperdaya dan memanfaatkan kelemahan wanita dengan kata-katanya yang manis dan penuh bualan.


Well, saya sempat bingung ketika menyelesaikan film ini dengan penuh tanda tanya, tak mengerti tujuan dari Coppola membuat film ini. Tapi, jika menafsirkan sendiri makna dibalik novel Chullinan sendiri pada dasarnya The Beguiled bercerita tentang manusia dalam sosial selalu merasa bijak dan berperilaku sesuai moral didepan orang lain, memenuhi dan mengajarkan tentang bersikap baik dan sopan, meski itu dalam literasi alkitab maupun buku pedoman, namun ketika dorongan hasrat, cinta dan nafsu memanggil, alam bawah sadar kadang membuat logika menjadi dangkal, hingga sifat manusia yang asli muncul dengan kedok kelemahan dan kebaikan, mungkin dimisalkan para wanita yang diremehkan oleh McBurney. Hanya saja Coppola kurang menggali lebih dalam konflik dan hubungan yang hadir seadanya saja, terkesan Coppola takut mengeksplorasi sisi yang lebih menggigit dari sekedar seorang pria yang mencoba memanipulasi sisi terlemah wanita, meski tata visual vintage terasa cantik dan haunted, sampai tata busana-nya cukup manis untuk ditampilkan. The Beguiled hanya kurang terasa fokus mengalirkan tujuan utamanya, hingga di akhir cerita saya sempat bengong, apakah endingnya hanya begini saja? Jadi apa maknanya?
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Pengaruh globalisasi zaman cukup banyak berperan penting dalam pembentukkan karakter dan sifat manusia. Itu terlihat bagaimana setiap generasi terbentuk mengikuti ciri yang sesuai dengan norma dan kultur yang ada saat ia lahir, tumbuh dan hidup. Mungkin tak perlu jauh-jauh saat saya yang lahir di generasi "Y" pasti mempunyai perbedaan pendapat dan pola pikir berbeda dari segelintir orang tua yang telah hidup setengah abad. Dan Mike Mills (sutradara dan screenwriter film ini) sebagai pelaku utama yang lahir dan tumbuh di era struggle 3 generasi wanita mencoba menyampaikan sebuah kisah semi-autobiografi miliknya melalui sebuah surat cinta kepada ibunya sekaligus surat cinta untuk semua wanita yang lahir di 20th Century Women seluruh dunia.

Berlatar tahun 1979 di Santa Barbara, California, Dorothea Fields (Annette Bening) adalah seorang single mother yang khawatir tidak mampu untuk mendidik dan membesarkan sendirian anak laki-lakinya Jamie (Lucas Jade Zumann) yang kala itu menginjak umur 15 Tahun. Maka dari itu Dorothea meminta bantuan Abigail 'Abbie' Porter (Greta Gerwig) wanita yang tinggal bersamanya dan Julie (Elle Fanning) teman dekat Jamie sejak kecil, untuk menjaga dan membantu membesarkan dirinya hingga Jamie dewasa.


Dorothea sendiri adalah perwujudan dari ibu kandung Mills, lahir di era yang berbeda, tentu saja menginjak usia 55 tahun Dorothea harus menghadapi berbagai macam perubahan termasuk segala hal yang hadir dalam hidup anaknya. Musik punk, pop-culture, skateboard, hingga permainan skip challenge tak bermanfaat membuat semua hal asing dan aneh membuatnya khawatir dengan perkembangan anaknya tersebut. Tapi tentu saja Dorothea bukanlah tipikal ibu protektitf atau pemanja, sikap luwes dan supel selalu ia tampilkan meski berbagai pertentangan dengan anaknya selalu muncul ke permukaan. Abbie dan Julie pun sama-sama tokoh wanita yang hidup di generasi yang beda pula. Mereka berdua adalah sosok yang likable dan hadirnya mereka dalam hidup Jamie menghadirkan dinamika perspektif yang kuat dan masing-masing sudut pandang dari ketiganya mengeluarkan chemistry pada tingkatan berbeda dengan Jamie. "Whatever you think your life is going to be like, just know, it's not gonna be anything like that. "


Sebagai sebuah coming-of-age dengan bumbu nostalgia dan sejarah hidup sang penulis, film ini memang ingin menunjukkan identitas Mills dan hubungan eratnya bersama wanita-wanita yang pernah mengelilingi dunianya. Seperti 20th Century Women menggambarkan sudut pandang ibunya, dan Beginners (2011) mengambil sudut pandang dari ayahnya. Kesenangan itulah yang coba Mills sampaikan kepada penonton bahwa masa kecil hidupnya cukup menyenangkan dengan bertemunya berbagai sosok inspiratif dalam hidupnya. Konteks yang disampaikan 20th Century Women ini mempunyai gagasan cerita yang masing-masing menonjolkan setiap tokoh dan detil perspektif berbeda dari ketiganya, diikuti Jamie (Mills) sebagai observer.


Saya sangat menyukai bagaimana Mills menggambarkan chemistry pada masing-masing tokoh, mereka punya opini, pendapat, dan pengaruh kuat meski mereka terdiri dari berbagai frekuensi amplitudo yang berbeda. Mereka masing-masing mencirikan diri mereka sendiri dengan sangat shiny and personally, diikuti ruang lingkup permasalahan, latar belakang serta bagaimana cara mereka berbaur dan berkomunikasi, itu sudah cukup membuat semua karakter di film ini gampang dicintai.

Annette Benning sebagai lead mampu menunjukkan karakter kuat meski mature dan depresif yang terlihat dari kelesuan wajah dan hobi merokoknya, tapi cukup mudah disukai bahwa ia wanita yang mencoba hidup tegar menyadari bahwa ia tahu konsekuensi dirinya saat berada ditengah-tengah pergolakan zaman yang terus-menerus menggerus norma dan moral yang tak seperti ia rasakan dulu. Elle Fanning sebagai moral sensitive gemar memainkan aura sensualitas remaja entah dengan rambut berantakan, kaos longgar dan transparan, hingga masalah seksualitas dan pergaulan hidup yang bebas, tapi cukup punya keintiman personal dengan Jamie tanpa banyak kecanggungan yang berarti, meski saya secara pribadi kurang suka akan peran Elle disini. Greta Gerwig sebagai fotografer nyentrik dengan rambut merah pun mampu tampil unik dengan segala kecemasan dan kegalauan hidup yang ada pada dirinya, memberi kesan feminis garis keras yang ceria namun punya pandangan hidup dalam konteks kebebasan berekspresi dan berpendapat. Dan, terakhir William (Billy Crudup), pria dengan kontribusi paling kecil, tapi cukup berhasil mentengahi kehidupan para wanita ini tanpa harus mengganggu lebih banyak cerita.


Kemasan 20th Century Women pun tampil cantik dengan berbaurnya kilauan warna mencolok, mengeluarkan semua pernak-pernik keindahan dekorasi dan tata busana yang ada sehingga terpancar keindahan unik tersendiri dan a simply power of enchanted austerity, hingga beberapa potongan foto dan video klasik, hingga memadukan berbagai event moment pada balutan cerita, spontan ini sebuah gaya senimatis unik semacam "(500) Days of Summers". Dan juga berbagai mixing musik berbeda latar dan generasi mewakili setiap pergerakan dan bentrokan kultur yang ada, Dorothea yang sering memainkan musik klasik seperti, "As Time Goes By Lyrics by Rudy Vallee" dan jenis musik punk-rock band "Art Fag" dan "Black Flag" mengikuti trend Abbie dan Jamie.

Overall, ini secara pribadi memang film favorit saya, sebuah coming-of-age dengan perpaduan cerita sederhana dan sinematografi yang sangat memikat mata. Performa akting hingga berbagai pernak-pernik seputar isu feminisme, sosial, pergaulan bebas, hingga pengaruh bentrokan budaya dengan subtle diangkat menjadi sangat kaya dan luar biasa. Ini adalah sebuah film yang buat saya sulit untuk dilupakan, surat cinta sederhana untuk mewakili hati para wanita, Dorothea untuk generasi tua (old), Abbie untuk generasi dewasa (adult), dan Julie untuk generasi remaja (teen).
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
10 Artis Paling Favorit 2016



Salah satu daya tarik sebuah film tentu saja adalah aktor atau artis yang bermain dalam film tersebut. Entah film tersebut sebuah film action, drama, romance, ataupun horror. Terutama kaum adam yang tidak hanya mencari kesenangan menonton film dari sebuah aksinya saja, tapi juga tertarik pada kecantikkan atau keseksian artis yang bermain didalamnya. Tapi, tentunya Saya tidak akan menilai dari segi fisik saja, tapi juga bagaimana aktingya mampu memberinya pesona tersendiri yang mampu mengambil hati tidak hanya pria tapi juga wanita. So, inilah daftar 10 Artis Favorit 2016 versi LEMONVIE.
----------------------------------------------------------

Klik di bawah ini jika ingin melihat
10 Aktor Paling Favorit 2016
 

10. Susan Sarandon
Susan Sarandon
Perannya di film The Meddler membuat saya jatuh hati pada artis bernama Susan Sarandon. Perannya sebagai Nini Minervini, seorang ibu yang kehadirannya tidak disukai oleh anaknya sendiri, punya karakter yang loveable, tidak hanya orang-orang terdekatnya tapi juga teman-teman anaknya sendiri, yang justru sangat menyukai bahkan berharap Minervini adalah ibu kandungnya sendiri, dikarenakan karakternya yang royal, dermawan dan perhatian, ditengah kesepian dirinya tanpa perhatian anaknya sendiri. Meski bukan artis muda yang cantik, tapi tidak menutup dirinya tampil mempesona dibalik penampilannya yang tetap kece'.

9. Helen Mirren
Helen Mirren
Helen Mirren di film Eye in the Sky ini tampil dengan garang dan keras. Tidak ada sedikitpun sisi feminim seorang wanita yang dibawakan oleh Helen sebagai Kolonel Katherine Powell. Dengan seragam tentara dan cara kerjanya yang tak kenal belas kasih, kita sudah melihat perawakan militernya yang sanggup mengkomandoi dan memimpin regu penangkapan terorisme di film ini.

8. Margot Robbie
Margot Robbie
Dibalik buruknya kualitas film Suicide Squad sebagai salah satu koleksi DC yang gagal. Tapi, ada satu alasan mengapa mereka (terutama kaum adam) tetap terhibur setelah menonton film ini. Salah satunya, Harley Quinn yang diperankan oleh Margot Robbie, dibalik cosplay nyentrik dan seksi, make-up dan hairstyle yang weird, tidak menutup Robbie tampil luar biasa mempesona dan ikonik. Apalagi aktingnya tidak kalah hebat sebagai pasangan Joker yang sama-sama gilanya. Jika saja film ini tahu caranya bikin kegilaan, kejahatan dan kekacauan lebih tinggi, mungkin saja do'i bisa berada diperingkat nomor satu list saya. Joker beruntung bisa dapat do'i.

7. Lulu Wilson
Lulu Wilson
Memasukkannya dalam list bukan karena saya pedofil, haha. Tapi, Lulu Wilson dalam film Ouija: Origin of Evil punya tampang polos, innocent dan manis. Tapi, ekspresinya yang kadang datar, aneh dan creepy, apalagi efek CGI wajahnya yang kadang dibuat seram dengan dialog-dialog ngehe yang ia buat, sudah cukup menjadi alasan dik Lulu dalam list saya.

6. Rima Te Wiata
Walau cuman berakting sebentar di film Hunt for the Wilderpeople. Tapi sosok Rima Te Wiata yang berperan sebagai Bibi Bella, dengan kehangatan dan kebaikan dirinya sanggup meluluhkan hati Ricky Backer yang notabene super nakal. Bibi Bella mampu menjadi penengah dua orang laki-laki yang sifat dan umurnya bertolak belakang yang keduanya sama-sama menyukai sosok dirinya yang penuh kasih sayang.

5. Kate Beckinsale
Kate Beckinsale
Bertahun-tahun Kate Beckinsale berperan sebagai vampire lycans di film "Underworld" series, akhirnya akting berkelasnya terpakai di film Love & Friendship sebagai Lady Susan Vernon. Akting Kate disini terlihat begitu mempesona, elegan sekaligus menyebalkan, begitu pas dengan karakternya arogan dan licik, tapi dibalik itu ia hadir dengan kasih sayang dan sifat keibuan.

4. Amy Adams
Amy Adams
Berperan dalam tiga film tahun 2016 lalu, "Batman v Superman: Dawn of Justice", "Nocturnal Animals" dan Arrival. Memang sangat layak Amy Adams diperingkat tinggi di list ini. Meski saya sendiri baru menonton satu film, Arrival, tapi aktingnya sebagai Professor Louise Banks, Amy sukses menampilkan karakter cerdas dan depresif, kala perannya disini sangat menarik dan charming, berbicara dan berkomunikasi dengan bahasa alien, itu sungguh luar biasa. Meski sebelumnya 'Lois/Louise' adalah kekasih Superman yang notabene sama-sama alien.

3. Auli'i Cravalho
Tidak ada larangan tokoh kartun masuk dalam kategori ini, selama ia punya jenis kelamin dan punya daya tarik yang kuat. Moana adalah salah satu jenis tokoh animasi Disney yang berkarakter kuat, pandai, lucu, cantik dan berjiwa petualang. Sosok inilah yang membuat saya penasaran siapa pengisi suara Moana tersebut. Yaitu tidak lain Auli'i Cravalho, gadis manis asli kepulauan Hawaii yang punya kemiripan wajah dari karakter yang ia suarakan, bahkan menurut saya jika Moana dijadikan live action, mungkin hanya Auli'i saja yang pantas memerankannya.

2. Elle Fanning
Elle Fanning
Meski tidak atau belum berani untuk tampil buka-bukaan di film ini, tapi Elle Fanning telah mencuri atensi. Perannya di film The Neon Demon, mengukuhkan karakter dirinya lebih dewasa, elegan dan cantik. Tidak ada lagi sosok remaja ataupun anak kecil dalam diri Elle. Ia adalah wanita muda belasan tahun dengan obsesi besarnya sebagai model papan atas di kota Los Angeles. Yups, sangat tertarik melihat aktingnya di film yang lebih besar.

1. Min-hee Kim
Min-hee Kim
Melihat kapasitasnya sebagai nona tuan rumah yang cantik dan elegan antara pesona gaya dan tutur bicaranya yang melambangkan wanita berkasta tinggi, Lady Hideko, Saya lebih memilih Min-hee Kim ketimbang Tae-ri Kim, di film The Handmaiden. Selain itu Lady Hideko juga punya sisi kerapuhan dan kelemahan yang tersembunyi rapih, selain karakter lesbian yang ia perankan, Min-hee Kim juga tampil berani di depan kamera bersama partnernya Tae-ri Kim sebagai pasangan kekasih. Memang sangat tepat memilihnya di list pertama sebagai artis terfavorit tahun 2016 lalu.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Apa yang membuat film horor disukai? Jawabannya hanya satu dan cukup simpel, saat film horor itu mampu menakuti penontonnya, menjerit histeris seraya mengucapkan sumpah serapah, atau yang paling sederhana membuat bulu kuduk penontonnya merinding. Tapi, sebetulnya itu jawaban umum yang sering dilontarkan segelintir orang ketika menilai sebuah film horor bagus hanya datang dari efek scary-nya saja. Entah apa anda sependapat dengan saya atau tidak, tapi saya menyadari bahwa film horror tidaklah seperti itu. Bahwa makna horor sebenarnya adalah sebuah "Theme" ataupun "Genre", yaitu lekat dengan sebuah tema, dan bukannya efek scary. The Neon Demon membuktikan bahwa horor tidak harus tentang menakut-nakuti dengan hal-hal gaib maupun slasher. Disini sutradara Nicolas Winding Refn tidak punya sedikitpun motif untuk menakut-nakuti penontonnya dengan cara seperti itu. Tapi malah berusaha membuat suasana horor yang mysterious, weird dan artsy.

Seorang gadis muda berparas cantik, Jesse (Elle Fanning) adalah seorang foto model amatiran yang mencoba menapaki karir modelingnya di Los Angeles. Meski masih belum mencapai kesuksesan yang lebih besar dan bahkan masih tinggal di sebuah motel murah yang dimiliki seorang pria menyebalkan bernama Hank (Keanu Reeves), tapi Jesse memiliki kelebihan alami yang bisa mempermudahnya menggapai impiannya tersebut, yaitu paras cantik dan tubuh sempurna. Bahkan seorang penata rias yang ditemuinya sehabis sesi pemotretan, Ruby (Jena Malone) sangat mengagumi Jesse dan mencoba mengajaknya ke sebuah pesta, mencoba mengenalkannya pada teman Ruby yang juga berprofesi sebagai model, Gigi (Bella Heathcote) dan Sarah (Abbey Lee) yang juga sama-sama mengaguminya. Tapi, lama kelamaan kekaguman tersebut berubah menjadi obsesi dan kecemburuan pada apa yang dimiliki oleh Jesse.

Tujuan Nicolas difilm ini sebenarnya ingin membuat sisi horor yang berbeda dari biasanya yang berasal dari kata 'obsession', yaitu obsesi berlebihan pada kecantikan, yang bisa membuat seorang manusia jauh lebih seram dan lebih kejam dari Leatherface. Ya, premisnya cukup menarik, bahkan saya terus tertarik dan penasaran pada akhir film ini. Tapi, sayangnya narasi film ini tampak flat dan terasa kabur, bahkan untuk menngungkapkan motif soal obsesi, Nicolas tampak kesulitan menerangkannya, bahkan yang tampak jelas ceritanya justru soal Jesse yang harus mengalami susah payahnya menjadi model, hingga ia harus bugil di depan kamera dan juga kecemburuan rekan sesama model melihat betapa mudahnya Jesse meraih simpati oleh seorang juri pencari bakat. Bahkan dalam harapan horornya sekalipun, sesekali Nicolas mencoba bermain dengan teror-teror creepy, tapi bukanlah tensi atau atmosfer yang built-up, justru saya dibanjiri kebingungan dengan hal-hal yang tampak tidak jelas dan subtle. Horor dan terornya simpang siur, justru terjebak dengan adegan-adegan tak jelas yang seringkali tidak menebarkan ketakutan.

Tapi, ada bagian penting yang justru ditangan Nicolas persentasi film ini terasa sangat memuaskan. Mengerjakan dua film yang memang dikenal sebagai film artistic cinematography, Drive dan Only God Forgives. The Neon Demon melakukan hal serupa ketika Nicolas bermain-main dengan lampu cahaya neon beserta scoring musik nuansa rave yang terasa weird. Gambar-gambar yang ditampilkan pun bersamaan dengan gerakan kamera yang bergerak pelan, menerapkan shot-shot yang terasa artistik. Hanya dari penerapan gambar The Neon Demon berhasil berbicara banyak daripada apa yang naskah ceritanya sendiri buat. Memamerkan setiap lampu-lampu berwarna-warni baik lampu motel, lampu jalan, lampu kamar yang secara kontras berhamparan dalam film yang darkly, juga bagaimana lampu-lampu tersebut menerangi setiap wardrobe dan tata dekorasi yang menawan mata.

Ditambah, pesona wanita-wanita di film ini, Jena Malone, Bella Heathcote dan Abbey Lee sudah membuktikan betapa gilanya mereka sebagai wanita yang menurut saya sudah cukup cantik dan berpostur tubuh sempurna, namun beserta obsesi kecantikan yang sedarinya sedikit menyentil secara halus wanita-wanita di kehidupan nyata yang selalu mencoba untuk operasi sana-sini, membuat mereka bagaikan iblis dibalik gemerlapan hidup seorang model. Terutama peran Elle Fanning, dibalik pretty, charm dan sexy dirinya yang masih muda, mampu menampilkan akting penuh daya tarik dibalik ekspresi mimik kosongnya, yang Hollywood pun harus segera serius melirik potensi luar biasanya.

Well, Sebetulnya saya berada dalam dua perasaan yang masing-masing merasa satisfied dan dissatisfied. Sebagaimana ia mengawinkan elemen-elemen artistik dan tema horor obsesinya. Dan juga cukup puas dengan konklusi cerita yang hadir tentang lesbianisme, obsesif, hingga berujung kanibalisme berdarah. Tapi, karena penuturan ceritanya yang kurang akurat dan kurang mencengkram, sayapun merasa tidak puas pada narasinya yang lemah. Banyak hal ambigu yang tak terjelaskan oleh Nicolas, seperti gangguan-gangguan yang terjadi di motel room Jesse. Ya, meskipun begitu The Neon Demon membawa sebuah cerita halus bahwa seorang wanita terkadang selalu tampak tidak puas dengan apa yang mereka miliki. Terkadang obsesi untuk menjadi cantik, menjadi sempurna, tidak puas dengan apa yang mereka miliki membuat wanita menghalalkan cara apapun untuk mendapatkan yang lebih, baik dengan cara yang halus ataupun yang kejam. Yah, walau dalam kasus film ini terlalu ekstrem untuk dipelajari.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates