• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Hantu, laksana entitas misteri yang takkan terjawabkan, apakah mereka hidup sama seperti kita atau samasekali berbeda. Ada yang menyebutkan mereka adalah arwah penasaran manusia yang telah mati, ada juga yang mempercayai sebagai sosok jin atau setan. David Lowery (Ain't Them Bodies Saints, Pete's Dragon) memilih sosok hantu berasal dari eks-manusia yang telah mati, jauh dari kata horror, film bertajuk perjalanan hantu melewati garis ruang dan waktu antara kehidupan dan kematian, ini sebuah karya orisinil, selain membawa sudut pandang hantu yang biasanya menjadi objektifikasi film horror yang guna menakuti penonton dengan penampakan seram lagi menakutkan. A Ghost Story lebih bermakna soal drama pencarian dan kehilangan, entitas yang seolah terlupakan dan tersesat di dunia yang tidak lagi dimilikinya.


Sebut saja C (Casey Affleck) hidup bahagia bersama kekasihnya M (Rooney Mara) yang tinggal disebuah rumah sederhana di pinggiran kota. Tapi naas kejadian tak terduga menimpa C yang saat itu sedang mengendarai mobil pribadi miliknya, mengalami kecelakaan sehingga nyawanya tak sempat lagi tertolong. C yang sudah meninggal dan jasadnya terbujur kaku, bangkit kembali namun dalam wujud yang berbeda, menggunakan kain putih disekujur tubuh dengan kedua lubang mata hitam di kepalanya, ia kembali ke rumah kekasihnya yang sekarang tinggal sendiri di rumah bekas tempat mereka tinggal berdua, mencoba mencari tahu dan berinteraksi.

Melalui persentasi, absurditas hingga kental akan nuansa arthouse, A Ghost Story memang hanya disajikan untuk penonton minoritas. Apalagi berharap ini akan menyajikan horror mencekam layaknya "Insidious" atau "The Conjurung", jangan harap, mengingatkan saya juga dengan salah satu indie horror dari negara Iran "A Girl Walks Home Alone at Night" menggapai orisinalitas dan element classic yang dipuji kritikus. Lowery mengajak kita mengenal dunia yang sering dibayangkan oleh banyak orang soal kehidupan setelah mati, kesepian, kehilangan, kesesatan, dan kekosongan tanpa terbayang bahwa di alam berikutnya tanpa sadar waktu terus berotasi, orang-orang yang kita cintai telah pergi dan tak mengingat kita lagi, dan kita bukan siapa-siapa sementara menjadi hantu eksis dalam kehampaan dan ketiadaan tanpa ujung.



Penekanan drama dalam dua dunia yang saling bersinggungan meski eksistensi hantu tak mampu dilihat dan dirasakan oleh manusia (hidup), tapi secara cerdik Lowery membentuk alasan yang kemudian menjadi ironi dan dilema. Ada emosi ketika sebait rasa disampaikan melalui M dalam ratapan duka dan lara menangisi sang kekasih, padahal didekatnya hadir hantu C yang hanya mampu melihatnya dari sisi lain, tak bergeming. Melalui bungkusan kain, mungkin sulit merasakan emosi hantu, selain hal tersebut berdampak menjadi kekosongan tak bernyawa, tapi bukan berarti tak nampak, sesekali kita ikut merasakan sentimental melalui perilaku yang kadang "Mungkin jika piring, bingkai foto, jatuh dan pecah, hantu sedang marah".

Filmnya memikat secara aneh, pesannya menyampaikan bahwa dunia kematian pun sama dengan kehidupan, mencari tujuan dan harapan selain eksistensi mereka di dunia pun begitu panjang. Memberikan jawaban tentang "Kenapa rumah itu berhantu?", "Kenapa hantu itu usil dan jahat?", "Kenapa hantu didefinisikan sebagai entitas roh yang gentayangan dan mengganggu?" dan "Kenapa hantu selalu ada, dan tak menghilang dari kehidupan manusia?". Ya, bukan itu saja, film ini pun mencoba melodramatis dalam keheningan, kehampaan jadi dilema, dalam kurun waktu yang begitu panjang, eksistensi hantu pun menjadi mengerikan, melewati evolusi kehidupan dan zaman, sementara eksistensi mereka pun tetap statis. Tapi, sayang menemukan kisah yang saya harap linear pun berubah menjadi janggal, menciptakan jenis realita dalam cerita ruang dan waktu pun menjadi terasa aneh. Meski ini tidak seaneh "2001: A Space Oddysey" atau "Interstellar", ini tidak terlalu cantik untuk sebuah narasi yang magis dan haunting dengan pendekatan yang lebih realistis, terkesan dalam simpul yang aneh.


Tapi, ini tetap persentasi yang luar biasa, emptiness dalam visual arthouse yang luar biasa, bagai lukisan gerak yang menjerat melalui garapan sinematografer Andrew Droz Palermo. Meski kadang beberapa bagian diambil dengan take long shot yang lama, bahkan adegan Rooney Mara yang makan kue pie sambil menangis hampir terasa 2 menit lebih berjalan tanpa cut, tapi hal ini sukses mendekatkan emosi penonton pada para tokoh, melalui kehangatan, kepiluan dan keheningan, juga Daniel Hart menggubah aransmen musik yang kadang dari sayatan biola yang melirih, ataupun musik tempo yang kadang mampu membangun atmosfer terasa mencekam.

Sebetulnya garapan Lowery terasa luar biasa, kala ia pun selalu berani merangkul kisah yang sulit di terima kaum generik, semenjak Pete's Dragon, dari adaptasi kartun Disney yang kurang sukses, namun ia garap sebaik mungkin dengan "hati". A Ghost Story, dengan budget kecil, meski tahu filmnya takkan hype besar-besaran, melalui sentuhan art cinematic dan keindahan visual yang luas, mempertaruhkan penghasilan daripada kecintaan. Tapi, melandaskan kisah hantu diantara ruang dan waktu, ini tidak terlalu istimewa sebagai karya orisinil, meski konklusi akhir menjadi nyawa film yang tersampaikan kuat, tapi linearitas menjadi imbas kekecewaan. Merubah rasa suka saya menjadi emptiness total, meski A Ghost Story tetap film yang cukup berbeda dan tetap memiliki "hati" didalamnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments



Seperti yang telah saya buat dalam postingan 10 Artis Paling Favorit 2016. Rasanya tidak afdol jika tidak membuat postingan untuk kategori aktor favorit tahun 2016. Meski selang waktunya sudah terlalu lama, tapi post ini baru selesai dibuat hari ini. Meski begitu dengan sedikit bersusah payah tentu saja list ini dibuat berdasarkan segi performa aktor bersangkutan dalam berakting seperti ketampanan, kemachoan, keanehan ataupun keseksian sekalipun.
----------------------------------------------------------


10. Eddie Redmayne
Pria bookworm dan canggung sepertinya sudah melekat dari diri Eddie Redmayne. Sebagaimana aktingnya di film terbaru dari J.K. Rowling di film Fantastic Beasts and Where to Find Them sebagai Newt Scamander. Menggantikan posisi Harry Potter sebagai main character. Sisi ikonik dalam diri Eddie Redmayne terpancar begitu mempesona mengalahkan pesona karakter lainnya dalam film ini. Dan tentu saja mengikuti keempat sekuelnya, sangat menarik melihat perkembangan karakter ini akan jadi seperti apa.

9. Jared Leto
Berusaha untuk tidak terjebak pada Joker-nya Heath Ledger. Sesuai janjinya Jared Leto memberikan Joker versi dirinya yang anti-mainstream yang bahkan diluar ekspetasi tampil segila dan sesinting yang dibayangkan. Tawa disturbing turut menciptakan atmosfer creepy pada dirinya. Meski disayangkan gegara film Suicide Squad menjadi film amburadul. Aktingnya hanya jadi pemanis tak berbobot. Jikalau filmnya sedikit bagus saja, tidak semestinya ia berada di urutan nomer 9.

8. Daniel Radcliffe
Ada dua film yang menyulitkan saya memilih antara Swiss Army Man dan Imperium yang membuat Daniel Radcliffe menarik perhatian saya, hingga akhirnya saya memutuskan memasukkan keduanya sekaligus. Diluar perannya sebagai Harry Potter selama lebih se-dekade membuat kemampuan aktingnya kian terasah. Dua filmnya kontras antara film konyol dan film serius, membuktikan Radcliffe bukanlah aktor multi-face biasa sekali pakai.

7. Ryan Gosling
Sebetulnya saya mau memasukkan akting Ryan Gosling di film La La Land. Tapi, menurut saya aktingnya disitu masih terlalu mainstream, cool dan status playboy-nya masih tercium. Maka saya jauh lebih memilih The Nice Guys sebagai akting favorit saya. Konyol dan bodoh itulah definisi seorang Ryan Gosling di film ini. Bagaimana mungkin aktor setampan dan sekeren ini dibuat menjadi karakter goofy dan menjatuhkan statusnya sebagai pria pujaan wanita. Tapi, ini bukti bahwa Gosling berani tampil bodoh sekaligus profesional diluar aktingnya yang melulu keren terus.

6. Tom Hanks
Aktor yang belakangan sering memerankan tokoh biografi, Tom Hanks aktor senior yang berkali-kali memajang namanya sebagai nominator Oscar memang patut diancungi jempol. Aktingnya sebagai kapten Sully pun nyaris sempurna. Ada ekspresi ketenangan dibalik peristiwa traumatis yang mengguncang jiwanya. Sebuah pendalaman karakter yang betul-betul dijiwai oleh Tom Hanks yang mudah untuk disukai.

5. Joseph Gordon-Levitt
Boleh jika mengatakan Joseph Gordon-Levitt adalah seorang aktor muda berbakat dan bertalenta. Salah satu aktingnya yang keren melalui perannya sebagai Edward Snowden. Bahkan salah satu kritikus lokal yang saya kenal mengatakan aktingnya disini hampir tidak mampu membedakannya dengan orang asli.

4. Viggo Mortensen
Viggo Mortensen mungkin hampir dilupakan sebagai aktor. Tapi, jangan lupakan aktingnya di film Captain Fantastic, karena aktingnya disinipun sangat fantastic. Bugil sepenuhnya dan berakting sebagai orang liar bersama anak-anaknya. Buat saya Viggo setengah gila di film ini, tapi tetap menjadi salah satu favorit saya tahun ini.

3. Andrew Garfield
Dua kali Andrew Garfield memerankan tokoh religius tahun ini, pertama Hacksaw Ridge, kedua Silence. Dan kedua-duanya adalah film terbaik karena aktingnya Garfield sangat luar biasa. Lupakan ia sebagai Spider-Man, disinilah Garfield membuktikan bahwa ia bukan aktor kelas kacangan yang selalu dicirikan sebagai aktor yang cuma bisa berakting sebagai remaja galau karena cinta. Diluar itu ia justru jauh lebih garang dengan cara galau yang berbeda.

2. Mahershala Ali
Saya tidak menyalahkan Mahershala yang aktingnya hanya sebentar di Moonlight namun menang Oscar sebagai Best Supporting Actor in Role. Sebagai salah satu aktor kulit hitam dan seorang muslim, saya akui kehangatan dan kebaikan yang ia salurkan kepada anak kecil tak dikenalnya sanggup menyentuh hati. Ya, saya tahu dari dulu Oscar memang tidak pernah menyepelekan aktor dan artis yang berakting sebentar, contohnya Anthony Hopkins di film Silence of the Lambs. Dan Mahershala membuktikan bahwa kualitas lebih dikedepankan daripada kuantitas.

1. Chasey Affleck
Complex and strong performance acting, sebuah hasil nubuat bagi Casey Affleck yang akhirnya betul-betul membuatnya memenangkan Oscar pertamanya di film Manchaster by the Sea. Sebuah akting berkelas wahid tentang kesuraman, kemurungan, dan ketidaksetabilan emosi dan mental yang terpancarkan sangat intens dan natural dari Casey sebagai pria biasa yang bekerja sebagai craftsman. Meski banyak skeptis soal isu moral abusive yang ia lakukan, namun hasil tetap harus membuktikan bahwa penilaian Oscar haruslah objektif.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Entah apa yang membuat film drama berjudul Manchester by the Sea ini menjadi salah satu film drama paling fenomenal tahun lalu, sehingga banyak sekali orang bahkan kritikus memuji-muji film karya Kenneth Lonergan sebagai sutradara sekaligus penulis naskah menjadi salah satu film terbaik tahun 2016. Mungkin memang Lonergan bukan sutradara yang punya sederet daftar filmography, but anyway, setelah menonton film ini saya pun tersadar dan akhirnya pun sama-sama mengakui Manchaster by the Sea sebagai salah satu drama terbaik dan juga drama melancholic yang penuh dengan letupan emosi luar biasa yang membuat saya sendiri merasakan kepahitan dan penderitaan atas tragedi yang pernah terjadi di masa lalu.

Tapi sebetulnya yang menjadi sorotan dan kehebatan film ini bukanlah dari cerita ataupun film itu sendiri, melainkan kehebatan dan performa akting luar biasa dari adik kandung Ben Affleck, Casey Affleck yang menjadi salah satu kunci sukses film ini menjadi sebuah film depresif dan menghanyutkan, yang benar-benar mengunci perhatian saya pada kemampuan akting Casey yang betul-betul diluar dugaan, yang sudah tidak bisa dibandingkan lagi dengan kakaknya, Ben di film Argo sekalipun. Meskipun film ini rencananya akan diperankan oleh Matt Damon juga sebagai sutradara dan penulis naskah, tapi karena terkendala Matt Damon yang lebih dulu ikut bermain di film The Martian, akhirnya memilih Casey sebagai pengganti Matt betul-betul menjadi pilihan yang paling tepat.

Sejak awal film ini saya sudah dihanyutkan oleh tatapan dingin dan kosong dari Casey Affleck yang berperan sebagai seorang tukang ledeng bernama Lee Chandler, antara sifatnya yang terkesan dingin, kaku, pendiam tapi tiba-tiba emosional dan kasar. Membuat saya sedari awal sudah dijejali ketegangan psikologis yang terus menghantui dan mengganggu hanya dengan melihat kesan aneh dan tatapan tajam mata Casey Affleck. Sejujurnya, akting Casey disini cukup sederhana, ia hampir jarang berbicara dan berdialog, mungkin hanya sepatah dua patah kata saja, bahkan kalau mau dikata adegan kasar dan dialog-dialognya biasa saja, tapi yang betul-betul dinilai disini adalah kelas aktingnya yang luar biasa, Casey cukup berbicara dengan gestur dan mimik wajahnya, bahkan kecanggungan beberapa kerabat dan orang-orang yang berbicara dengannya, membuat saya merasakan aura psikologis yang depresif dan aneh.

Selain itu untuk segi cerita film ini, mungkin saya sedikit tertipu dengan poster film ini yang sengaja memasang Affleck dan Michelle Williams sebagai ex-wife, Randi Chandler yang terlihat sedang berbicara di pinggir pantai, ya mungkin tidak sepenuhnya bohong, jika melihat konflik utama film ini sebetulnya datang dari masa lalu mereka, karena hampir separuh film ini akan menceritakan tentang hubungan dan kedekatan antara Lee dan anak asuhnya, Patrick (Lucas Hedges), anak dari kakak kandung Lee, Joe Chandler (Kyle Chandler) yang baru saja meninggal karena penyakit langka yang berwasiat padanya untuk menjadi wali anaknya jika dia mati. Manchester by the Sea ini adalah sebuah film yang menceritakan sekelumit komplikasi masalah hidup yang dihadapi Lee, yang membebankan dirinya pada bercampurnya masalah hidup yang ia jalani sekarang dan juga beban masa lalu yang membuatnya kembali mengenang masa lalu yang telah membuat kehidupannya berubah drastis.

Dengan cerita flashback dan alur maju-mundur, dari kehidupan Lee sekarang dan kehidupannya di masa lalu bersama Randi dan anak-anaknya. Yang saya suka disini adalah bagaimana setiap problematika yang dihadapi oleh Lee mampu dicampur adukkan dengan setiap emosi yang ada, tidak hanya tentang sebuah kemurungan, kesedihan, amarah, dan penyesalan yang dalam dari diri seorang Lee. Tapi juga kesedihan dan rasa kehilangan orang-orang yang berharga baik dari persepektif Patrick yang baru saja kehilangan seorang ayah yang disayanginya maupun konflik-konflik yang terjalin dari orang-orang yang terkait dalam kehidupan dan masa lalu Lee.

Terasa bagaikan sebuah pukulan kuat, materi tentang drama melankolis dan begitu dingin sangat menyayat hati dan emosi. Semua terjaga kuat, bahkan saat Lonergan beberapa kali menyelipkan unsur mischief dan farce yang sedikit memberi senyuman dari tingkah Lee dan Patrick, tetap jika melihat aura yang sudah dimainkan Casey film ini kembali terasa dingin dan kelam. Ya, film ini memang tidak bisa melepaskan kekaguman saya tentang performa akting Casey disini yang telah membangun film ini dari awal hingga akhir dengan sangat baik, dengan mendapatkan nominasi Oscar sebagai Best Actor in a leading role, meski dikecam oleh beberapa pihak karena masalah pelecehan seksual, yang membuat posisinya mendapatkan piala terancam. Tapi, saya tetap tidak bisa mengabaikan akting berkelasnya, jika memisahkan masalah moral yang terjadi di kehidupan nyata sang adik Ben Affleck ini dengan seni akting.

Well, Manchester by the Sea adalah sebuah film yang terasa dingin, panas dan hangat bersamaan dengan tragedi masa lalu yang kembali hadir dalam persoalan di masa sekarang yang membebani sekaligus mengguncang batin dan emosi secara campur aduk, yang diperankan dengan sangat mengagumkan oleh Casey Affleck, dan juga beberapa aktor dan artis lain yang cukup bermain solid seperti Lucas Hedges dan Michelle Williams yang juga sama-sama mendapatkan nominasi Oscar dipagelaran tahun 2017. Juga music scoring melirih dari permainan solo biola yang musiknya ditangani oleh Lesley Barber cukup memberikan sebuah letupan ironi cerita yang membantunya menjadi drama melirih.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates