• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz




"Did she? Didn't she? Who was to blame?" sebuah kata yang dipakai saat film ini dimulai ternyata menjadi konklusi di akhir cerita. My Cousin Rachel adalah sebuah film karya Roger Michell ("Notting Hill", "Le Week-End", "Venus") yang di remake ulang melalui film klasik berjudul sama tahun 1952 yang dimainkan oleh Olivia de Havilland dan Richard Burton, dan juga adaptasi asli novel karya Daphne du Maurier di tahun 1951. Film ini dasarnya adalah sebuah film romantis berbalut misteri yang mengelilingi identitas penuh teka-teki seorang wanita janda bernama Rachel Ashley (Rachel Weisz) yang baru saja kehilangan seorang suaminya, Ambrose. Philip (Sam Claflin) anak baptis sekaligus sepupu Ambrose yang telah membesarkan dan menganggapnya sebagai ayahnya sendiri, tidak mempercayai kematian Ambrose bukan karena penyakit tumor kepala seperti yang di klaim oleh penasehat dan pengacara Ambrose, Mr. Rainaldi (Pierfrancesco Favino) dan yakin bahwa Rachel sendirilah penyebab kematian ayah baptisnya tersebut.


Film ini datang dari rasa kebencian yang berubah tumbuh menjadi obsesi cinta yang membutakan. Philip sama sekali belum bertemu secara langsung dengan Rachel. Tinggal bersama wali hakim Nick Kendall (Iain Glen) dan anak perempuannya Louise Kendall (Holliday Grainger) sebelum Philip akhirnya mendapatkan harta warisan dan kendali penuh atas perkebunan yang dimiliki Ambrose, Rachel yang menghilang lalu tiba-tiba datang mengunjungi Philip. Disaat pertemuan pertama mereka tentu saja Philip dipenuhi rasa benci serta ingin menuntut balas dendam atas kematian Ambrose, namun niatnya seketika berubah saat melihat Rachel untuk pertama kalinya yang ia kira adalah wanita gendut, tua dan jelek yang hanya punya niat jahat untuk menguras harta Ambrose. Rachel yang tersenyum ramah dan lembut, hingga membuat wajah sendu disertai getaran rasa gugup memegang cangkir teh ditangannya. Pertemuan mereka di awal penuh kecanggungan, membuat segala kebencian Philip di awal sirna melihat kecantikan dan pesona Rachel yang akhirnya membuat Philip jatuh cinta dan terobsesi dengan sepupunya tersebut.



Wanita adalah konotasi yang diciptakan melalui penggambaran kecantikan dan pesona yang menghipnotis. Bisa dibilang Philip adalah pria yang digambarkan memiliki kelemahan seperti yang pernah ia ucapkan, ketika hasrat cinta dan obsesi meracuni kesadaran dan tujuan awal yang ia miliki. Melalui sepetak romantisme yang penuh skeptisme, Rachel adalah wanita yang dibentuk melalui ambiguitas karakter yang terkombinasi hampir sempurna. Mulut manis dan getar-getir optimisme disertai kerapuhan yang dipancarkan melalui akting Rachel Weisz sangat menakjubkan, ia punya nyawa untuk mencampur adukkan tipikal wanita yang sepenuhnya mencurigakan tapi disisi lain membawa sentimen keragu-raguan akan daya tariknya yang sangat istimewa tentang kesubtilan gestur dan mimik wajah yang mendayu-dayu seakan ia memang wanita yang terpresentasikan sebagai wanita yang baik-baik tanpa punya maksud dan motif tertentu.


Sesungguhnya penyajian film ini cukup meyakinkan melalui pencampuran romansa dari penyutradaraan yang indah dibungkus melalui atmosfer yang gelap dan misterius. Sihir dalam film ini tentu saja semua berasal dari kepiawaian akting para pemainnya, terutama Rachel Weisz yang berhasil memikat sepanjang film, apalagi tatapan mata serta senyumnya yang begitu kuat memancarkan kecantikan dan keanggunan layaknya wanita normal dan biasa berhasil menipu dan memanipulasi otak saya untuk percaya sepenuhnya padanya, seperti yang pernah saya rasakan melalui akting Rosamund Pike di film "Gone Girl". Dari sebentuk visualisasi vintage klasik dan juga senimatis yang mencoba menggambarkan keindahan landscape dan set dekor dibuat cukup elegant. Hanya saja Michell gagal memberi pesan kontradiktif yang akan membuat saya kurang merasa mind-blowing di akhir cerita, setiap jawaban dan clue yang serentet coba diungkap satu-persatu telah mempermudah penonton untuk menyimpulkan kebenaran sesungguhnya, meski Michell sendiri merasa apa yang ia coba terangkan mengenai persepsi multi-tafsir pikiran tidak berhasil dilampaui hingga finish.

Ditambah lagi film ini enggan menyentuh ranah yang konteks seksualnya lebih abusive, meski film ini menyajikan sebentuk hubungan cinta antar sepupu yang terbilang manipulatif, kontradiktif, dan obsesif, tapi peluang Michell mempersentasikan hal yang lebih berbau "busuk" dan suffering dari sekedar penekanan unsur romansa yang terbilang tarik ulur terasa kurang bergairah, hingga timbal balik di akhir film ini pun tidak lagi sesuai dengan apa yang diharapkan menjadi dark romantic dalam motif yang lebih provokatif serta kotor. Saya rasa Michell masih terlalu takut untuk menggenggam narasi dan penyutradaraan yang lebih memuaskan secara obsesi yang lebih mendorongnya lebih dalam, demi menghasilkan penokohan yang abu-abu justru terjerembab pada narasi yang ikut menjadi abu-abu yang tidak lagi menyulap hasilnya menjadi kontradiksi yang sesuai dengan ending yang memuaskan di akhir cerita.
Share
Tweet
Pin
Share
2 Comments


Apakah ada yang sudah pernah menonton salah satu mahakarya sutradara Steven Spielberg berjudul "Schindler's List"? Jika sudah, maka kamu pasti ingat salah satu adegan yang paling memorable sekaligus menyayat-nyayat hati akibat kekejaman Nazi saat sebuah tragedi 'Holocaust' dimana Hitler memerintahkan para tentaranya untuk memasukkan jutaan kaum Zionis (Yahudi) yang telah dipersiapkan pada kamp-kamp konsentrasi di Eropa Timur ke dalam sebuah kamar gas untuk dibunuh secara massal. Nah, yang kemudian menjadi pertanyaan oleh seluruh orang di dunia tentang tragedi kolosal kemanusiaan itu adalah apakah kejadian itu benar-benar terjadi dalam sejarah ataukah itu hanya sebuah kebohongan dan isu yang dilakukan sebagai sebuah propoganda?

Jujur saja pertama kali menonton film berjudul Denial (Penyangkalan) karya sutradara Mick Jackson ini saya tidak membawa cukup banyak referensi sejarah dan latar belakang tokoh yang ada didalam film ini selain dari beberapa sinopsis cerita dan beberapa film yang menampilkan tema serupa. Sebagai kelompok netral saya bukanlah fanatik Nazi ataupun fanatik Yahudi, Saya melihat sebuah tragedi ini dari sisi kemanusiaan yang memang sangat kejam dan biadab, jika menilik latar belakang sejarah dan kediktatoran Hitler. Jadi, melihat konflik antara dua sejarawan yang saling berseteru di meja hijau tentang kebenaran sejarah tentang holocaust, saya pun setelah habis menonton film ini masih terasa menggantung akan kebenaran tragedi tersebut, membuat saya terpaksa mencari kembali literatur yang pasti akan hal ini.

Deborah Lipstadt (Rachel Weisz) adalah seorang dosen sekaligus pembuat buku sukses yang berjudul "History on Trial: My Day in Court with a Holocaust Denier". Dalam bukunya tersebut Deborah menyinggung tentang tragedi kebenaran sejarah Holocaust, hingga menceritakan tentang kebohongan dan propoganda yang dilakukan segelintir orang yang ingin memutarbalikkan sejarah tentang tragedi tersebut. Tentu saja Deborah pun menuliskan nama sejarawan, David Irving (Timothy Spall) dibukunya sebagai seorang penipu yang menebarkan kebencian pada kaum Zionis dan seorang anti-semit. Tentu saja merasa nama baiknya dicemarkan, Irving menuntut Deborah ke pengadilan dan memaksanya untuk membuktikan kebenaran yang ia yakini tentang pembunuhan massal kaum yahudi di kamar gas di depan hakim.

Menyambung kembali kalimat terakhir di paragraf kedua tadi, ya, film Denial memang lebih menitikberatkan perseteruan dua tokoh utamanya secara eksploitatif. Deborah digambarkan sebagai wanita yahudi yang dilanda kepanikan secara emosional akan dirinya yang sedang ditindas. Irving digambarkan sebagai seorang sejarawan licik dan pintar yang melakukan segala cara untuk menjatuhkan nama Deborah di pengadilan. Dengan hanya melihat pemerannya adalah Timothy Spall saja saya sudah menduga peran apa yang akan dimainkannya. Sebagai pihak netral, saya berada pada pertengahan konflik yang ada, meski memang secara naskah dan cerita yang ditulis langsung oleh Lipstadt dan David Hare, kita harus berada pada posisi mendukung Deborah.

Ya, film ini adalah tentang bagaimana keadilan ditegakkan dan sejarah diluruskan. Tapi, sayangnya Mick kurang mengeksploitasi karakter dengan lebih efektif dan lebih besar. Meski dialog-dialog yang digunakan oleh Mick dalam courtroom diambil dari rekaman asli, tapi diluar konteks cerita, Saya sulit untuk memberi kesimpulan Irving sebagai orang yang sepenuhnya salah. Hanya dengan mengeksploitasi kelicikkan dan manipulasi situasi, bahkan dengan adegan-adegannya yang mengintip dibalik jendela. Terasa kurang cukup memberikan pemikiran kepada saya tentang kejahatan yang dilakukan olehnya. Bahkan ketika sang hakim yang tiba-tiba berasumsi akan pemikiran Irving, malah membuat ambiguitas karakter yang terasa kurang kontroversi. Ya, mungkin ide ini bisa diterima jika memang kita bisa sedikit simpatik pada kaum Yahudi atau kita adalah kaum yahudi itu sendiri.

Meskipun begitu saya tetap menikmati apa yang tersaji oleh film ini sebagai film drama courtroom yang terus-menerus menganalogikan kebenaran sejarah holocaust dengan berbagai pembuktian terkait, meskipun ada saat-saatnya kita menerima kebenaran yang dinyatakan oleh pihak Deborah yang dibantu oleh beberapa pakar sejarah seperti Richard Rampton (Tom Wilkinson) dan Anthony Julius (Andrew Scott), saya pun tak membantah apa yang dinyatakan oleh Irving yang duduk di persidangan seorang diri dengan keterangannya yang juga cukup masuk akal.

Disinipun saya cukup menyanjung akting Rachel Weisz yang berperan sebagai wanita yang sedang berjuang untuk pembelaan dirinya sendiri dan juga berusaha keras untuk memperbaiki kekacauan sejarah yang dikaburkan kepada dunia. Tidak hanya itu, dibalik itu juga Deborah adalah karakter emosional dan kurang tenang dalam menghadapi masalah yang menerpanya, tapi juga Mick menggambarkan betapa emosional dan berperasaannya Deborah terhadap kekejaman dan kepedihan yang dirasakan oleh para korban, apalagi saat Rampton mengajak Deborah mengunjungi museum di kota Auswitch untuk mencari bukti-bukti sejarah terjadinya holocaust yang membuat Deborah sedikit terbayang akan tragedi tersebut yang menyakiti hatinya.

Well, mungkin satu hal yang bisa dipetik dari film ini adalah bahwa sejarah dan tragedi yang telah dibawa selama puluhan tahun pun bisa diputar balikkan sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan sebagai propaganda dan dapat memicu tragedi diskriminatif dan kebencian. Meski saya sendiri sebagai kaum netral, kebohongan sejarah mungkin bisa lebih mengerikan daripada tragedi holocaust itu sendiri. Denial memang bukan sepenuhnya film yang mengangkat tentang pembongkaran kebohongan sejarah secara besar-besaran, tapi mungkin lebih diniatkan kepada sebuah konflik utama yang saat itu sedang terjadi. Meski saya menyayangkan eksploitasi cerita yang memang terasa kurang membawa bomb besar, yang meledak-ledakkan setiap emosi tokohnya dan pengaruh efektif yang mendatangkan propoganda yang menakutkan. So, ini adalah sebuah drama courtroom yang cukup menghibur dengan persentasi drama dan akting yang cukup absorbing dan powerful.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Bercerita tentang seorang laki-laki paruh baya bernama David (Colin Farrell). Nah, Si David ini seorang single alias jomblooo broo (Sama Kayak Gw!), terpaksa mengikuti sebuah kontes mungkin di sebuah hotel dimana dia beserta para jomblowan dan jomblowati harus mencari pasangan hidup. Menariknya, kalau mereka tidak mendapatkan pasangan yang tepat maka dalam waktu kurun 45 hari mereka akan dirubah menjadi hewan (Oh, Shit!?). Dan hewan tersebut adalah sesuai keinginan orang yang dirubah tersebut.

REVIEW:
Jadi, bisa Saya liat sendiri bahwa film ini entah mau disebut aneh atau unik. Dan juga premis ceritanya itu loh yang membuat Saya tertarik menontonnya, ternyata dibalik ini semua ada kesan yang bercampur aduk setelah menonton film ini. Ya, sesampainya si David udah nyampe hotel dan berpartisipasi didalam hotel tersebut, terjadilah hal-hal horor disini.

Horor? Ga salah bang? Beneran?

Ada kesan psikologis di film ini, bagaimana seorang seperti David dan juga peserta dipaksa cari pasangan hidup. Kalau ngga ya itu tadi... Dirubah jadi hewan, karena orang yang tidak sanggup mencari pasangan tidak layak menjadi manusia alias cupu broo!

Bukan hanya itu saja sih yang Saya dapet, selain ide cerita yang menarik. Film ini juga dibalut dengan kesan yang sangat konyol, lucu, serem, romantis, unik, aneh... Seperti permen Nan*-Nan*, rame rasanya.

Dan tidak lupa juga selain karakter utama, tokoh-tokoh yang bermunculan di film ini juga sangat unik.

OVERALL, ini salah satu film dengan daya tarik yang berbeda, menarik, lucu, sekaligus ada kesan serem dan sedikit horor. Pada dasarnya film ini menyinggung bagaimana seorang jomblo itu harus cepat-cepat cari pasangan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates