• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Sebagai penikmat gamenya, film Dreadout adalah film yang mengecewakan. Ditangan Kimo Stamboel sutradara yang sudah lama dikenal berduet dengan Timo Tjahjanto, mencoba untuk menyamai kesuksesan rekannya yang kemarin menyuguhkan action-thriller The Night Comes for Us. Sebetulnya jika saya sedikit meraba-raba film Kimo yang dulu, saya memang belum terlalu suka dengan gaya penyutradaraannya. Setup dalam penyampaian dan cerita Kimo sejak dulu terasa kurang dan amburadul. Tengoklah Headshot yang sebetulnya action scene tak perlu saya ragukan namun begitu melihat cerita amat berantakan yang ternyata ini pun tetap saja menular pada film Dreadout.

Keluar dari plot asli gamenya, dengan latar lebih sempit yang awalnya sebuah kota mati dirubah menjadi apartemen tua dan tertinggal. Kimo sebetulnya tetap setia dengan berbagai element khas Dreadout, terutama flash kamera ajaib dari handphone yang dipakai sang tokoh utama Linda (Caitlin Halderman) sebagai senjata mematikan pengusir setan. Bercerita gang remaja SMA yang mencoba mencari latar video live horror yang dipakai untuk mendapat follower di sebuah aplikasi sosial media. Mendapatkan sebuah ide untuk mengambil latar sebuah gedung tua yang dikenal angker namun memiliki akses terbatas dan terlarang, Linda yang diketahui mengenal penjaga gedung tersebut meminta bantuannya untuk mendapatkan izin untuk bisa masuk kesana. Tapi, seketika kesenangan mereka menjadi malapetaka saat sebuah portal misterius menyeret mereka masuk ke dunia lain yang mengerikan.

Okelah jika mengatakan bahwa penceritaan Dreadout terkesan amburadul meski saya sendiri pun tidak ambil pusing ketika plot ceritanya pun diluar kisah aslinya. Mengadaptasi game memang kerap mengecewakan walau kali ini mencoba membuktikannya lewat film lokal, Dreadout pun tetap saja menjadi sekumpulan adaptasi game gagal lainnya. Garapan Kimo bisa dibilang sangat serius dan ambisius, teknik CGI dan pengambilan gambar pun bisa dibilang oke punya. Melihat setan terbang berbaju kebaya merah sebagai musuh utama mampu meneror dengan wajah bengisnya, adegan demi adegan yang terasa penuh kekacauan dan sentuhan aksi khas Mo Brothers. Tapi, sekali lagi, Kimo adalah ahli pembuat kekacauan, sangking kacaunya cerita yang ia buat pun terasa ikut kacau balau.

Adegan-adegannya terasa buruk dan clumsy, hingga terkadang bukannya menjerit ketakutan justru yang hadir lebih banyak jerit tawa. Sedari awal pun saya sering melihat adegan-adegan yang tidak penting, walau saya mengerti Kimo melakukannya agar dapat membangun watak dan karakter yang berbeda pada tiap tokoh. Alih-alih bagus, justru para pemerannya seringkali bertingkah konyol dan menggelikan, hanya karena Kimo berusaha menampilkan subjek karakter yang berbeda-beda, dan tentu saja berbeda-beda dalam menampilkan kekonyolannya. Ceritanya pun terkesan mondar-mandir, repetitif, sampai kadang sulit membayangkan bahwa apakah Kimo sedang membuat film komedi atau horror, karena sedikitpun tak ada kesan horror yang didapat walau Kimo berani meniadakan jump scare agar filmnya murni menggarap horror atmosfer yang berkualitas. Menghadirkan ciri khas Dreadout dengan kamera flash sebagai senjata Linda pun sedari awal terlihat penuh resiko, perlawanan dari serangan hantu menggunakan teknik unik ini ternyata memang merugikan, apalagi ketika Kimo gagal memberi sentuhan ciri khas game ke dalam film malah membuat filmnya kontan, tambah aneh. Dari segi narasi pun dialog-dialognya terkesan kasar, rancu, hingga saya sempat kebingungan tentang apa yang sedang mereka katakan dan lakukan karena beberapa dialog saling berebutan bagai kucing saya dirumah ribut mengeong menunggu diberi makan, meminimalisir dialog dengan sekedar memanfaatkan umpatan 'sunda' dan kalimat pendek penuh teriakan histeris.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Tak bisa dipungkuri bahwa genre action-thriller dengan elemen martial arts brutal telah merubah image perfilman Indonesia dan juga lompatan besar bagi mimpi Indonesia untuk sampai bisa dilirik dunia, semenjak Gareth Evans memotori dua karya besarnya, The Raid: Redemption dan Berandal. Sesaat setelah ditinggal pergi oleh sang sutradara berkebangsaan Wales tersebut, kemudian The Mo Brothers, Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto terinspirasi untuk membuat film yang sama dan menaruh kembali Iko Uwais yang sedang naik daun sebagai lakon utamanya. Headshot merupakan sebuah upaya yang cukup berhasil memberikan kembali esensi ketegangan dan adegan kekerasan tingkat tinggi dari seni bela diri yang dimiliki oleh tanah air ke ranah Internasional.

Seorang pria tak dikenal sebut saja Ishmael (Iko Uwais) terkapar di sebuah pantai, ditolong oleh seorang wanita cantik bernama Ailin (Chelsea Islan) yang merupakan seorang dokter. Setelah siuman Ishmael mengalami amnesia sehingga ia tak tahu siapa dan apa yang telah terjadi padanya. Hingga ternyata Ishmael harus berurusan dengan salah seorang boss gangster berbahaya bernama Lee (Sunny Pang) yang mengancam nyawa Ishmael dan juga Ailin.

Film yang dibawa ke 'Toronto International Film Festival' (TIFF) ini memang cukup berhasil membuat saya berdecak kagum dengan kepiawaian duo mo-brothers menggarap koreografi silat ekstrim ini setingkat dengan yang dimiliki oleh Gareth Evans. Pasalnya, dari bantingan, bacokan, tusukan, peluru-peluru tertembus tubuh dan kepala, tulang-tulang yang patah, dan daging robek dalam skala gila-gilaan dan sama-sama membuat yang menonton pun mendapatkan efek ngilu dan kesakitan. Memang Kimo Stamboel dan Timo Tjahjanto sudah piawai membawa sesuatu yang bersifat gore dan bloody dengan kedua film terdahulunya yang punya tingkat kekerasan ekstrim (Killers dan Rumah Dara (Macabre)).

Dengan gerak-gerik kamera yang mengikuti setiap gerakan dan koreografi aksi Iko Uwais dan juga aktor lainnya, seperti juga untuk bagian teknis dan juga berbagai adegan-adegan baku hantam di setiap tempat berbeda mengingatkan saya dengan adegan game fighting yang sering kita mainkan dalam sebuah console game, dari lokasi sebuah sel penjara, dalam bus, dalam bangsal, kantor polisi dan dipinggir pantai memang cukup bangsat dan jempolan walau memang buat saya pribadi tidak semuanya benar-benar melekat seperti adegan Berandal di lapangan penjara berlumpur. Tapi, Mo Brothers agak membedakan beberapa koreografer baku hantamnya dengan menyelipkan aksi komedi yang sebelumnya tidak dibawakan oleh Gareth Evans. Cukup menarik.

Tapi sungguh disayangkan film yang beberapa dialognya sering terdengar kata 'ANJING' ini lemah dibagian cerita. Mo Brothers sesungguhnya ingin membumbui kisah romansa antara Ishmael dan Ailin. Justru apa yang didapat adanya ketidak klopan antara kisah cinta Ishmael dan juga aksi baku hantam Headshot. Bahkan hubungan antara mereka terlihat maksa dan terkesan malah mirip drama sinetron dengan dialog chessy-nya, ketimbang cerita yang terasa intim dan lebih emosional. Jejak-jejak drama sinetron Indonesia ini rupanya masih tidak bisa dilepaskan oleh Indonesia kala atmosfer ketegangan Headshot pun harus kacau dengan beberapa adegan tersebut.

Tidak jarang bahwa Headshot juga terlihat keteteran dalam bercerita ketika ia pintar dan kuat di awal tapi kemudian terlihat amburadul di belakang. Apalagi sequence aksi dalam adegan baku hantam Headshot juga tampak aneh dan alurnya terkesan maksa. Terlihat juga ketika aksi Iko Uwais ini melompat dari satu lokasi ke lokasi lain dengan cara berceritanya yang tampak abnormal. Apalagi disini kita harus kembali lagi dengan selingan drama sinetron yang terasa ga klop yang kembali lagi merusak suasana dan jalan cerita. Apalagi misteri-misteri yang dibangun di awal sedikit demi sedikit terasa hilang ketika kita tak lagi bertanya apa, kenapa dan siapa, setelah film ini selesai, apalagi dengan kejutan di akhir yang membuat saya bingung dengan konklusi tak nyambung dan ending yang ikut-ikutan maksa untuk ada.

Tapi, dibalik itu semua untuk para casting yang ikut bermain di film ini juga tak begitu mengecewakan, walau amat disayangkan, my lovely favorite actress from Indonesia, si cantik keturunan Prancis, Julia Estelle. Ga segarang dan se-badass seperti perannya di Berandal sebagai Hammer Girl. Dan juga dua pemeran utamanya Iko Uwais yang harus lebih banyak belajar akting dengan mimik wajahnya yang masih terlihat kaku dan Chelsea Islan sendiri yang memang cantik tapi perannya sebagai Ailin juga terasa sama-sama kaku. Disini saya cukup menyukai akting Sunny Pang sebagai Mr. Lee, boss yang terlihat berkarisma, pintar dan jahat (Saya juga tak menyangka bahwa Lee disini ternyata boss yang jago beladiri), membuat saya merasa pantas bahwa dirinya adalah boss yang lebih jahat dan lebih berakal dari Tama (Ray Sahetapy), walau saya tak suka logat campur-campurnya antara Inggris dan Indonesia. Dan juga beberapa aktor lainnya yang terlihat ikonik dengan kemampuan dan senjata beragam yang mereka miliki seperti David Hendrawan, Zack Lee, dan juga Very Tri Yulisman (Mantan Baseball Bat Man).

Mungkin memang Mo Brothers mencoba sebuah terobosan pada film Headshot dengan berbagai macam konflik dan misteri yang terasa kompleks, meski dirasa menjadi tumpul karena beberapa adegan dan jalinan cerita yang terkesan maksa, dengan kisah drama romantis yang terlihat lebay. Tapi, mungkin Headshot bisa menjadi alternatif bagi yang memang menyukai martial arts semacam The Raid. Karena, untuk koreografi dan baku hantamnya sendiri masih banyak eksplorasi dan hal baru yang masih terus terasa nonjok dan brutal. Dan tentunya untuk teknis dan visual film ini terasa lebih baik, jika boleh saya katakan di atas The Raid Pertama walau masih kalah jauh dibanding Berandal yang punya arthouse yang sinematis.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates