• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Secara hukum alam pria mendominasi wanita secara fisik maupun emosi karena dianggap lebih lemah. Pria dan wanita memang ditakdirkan memiliki perbedaan, namun perbedaan tersebut justru mengikat mereka melalui hasrat dan ketertarikan. Sofia Coppola sutradara wanita yang dulu sangat sukses dengan film romance "Lost In Translation" 2007 lalu, mencoba mengekspresikan wujud interaksi antara wanita dan pria dalam wujud yang paling darkly dari sebuah karya film terbarunya, The Beguiled yang artinya "memperdaya", "menipu", "mempermainkan". Film ini sendiri seolah kentara bermain dengan unsur psycho-thriller, dimana atmosfer juga tatanan visual dark dan vintage yang kusam membuatnya terasa sangat kelam.

Bersetting tahun 1864 di kota Virginia, Amerika Serikat atau lebih tepatnya 3 Tahun menjelang perang sipil. The Beguiled bercerita tentang seorang pria misterius tak dikenal, Corporal McBurney (Colin Farrell) mengklaim dirinya adalah tentara yang berhasil kabur dari medan perang sipil. Seorang gadis, Amy (Oona Laurence) yang tengah mencari jamur di dalam hutan menemukannya tergeletak tak berdaya dengan kaki terluka memintanya pertolongan. Amy yang merasa kasihan lalu membawanya ke tempat ia tinggal, sebuah sekolah sekaligus asrama wanita. Tentu saja kedatangan tamu tak di undang, McBurney mengejutkan Miss Martha (Nicole Kidman), guru sekaligus pemilik dan pengurus sekolah, Edwina (Kirsten Dunst) seorang guru tunggal, dan para murid mereka Alicia (Elle Fanning), Jane (Angourie Rice), Mary (Addison Riecke), dan Emily (Emma Howard).


Saya sebenarnya agak bingung mengkategorikan film The Beguiled sebagai thriller suspense, meski seperti yang sudah saya katakan film yang diadaptasi dari novel Thomas Cullinan berjudul sama ini agak terasa kurang menegangkan dan terkesan lebih tipikal. Ya, beberapa faktor kekurangan film ini terutama dari segi narasi cerita yang rasanya menjadi asal muasal film yang mencoba menyulap konflik wanita-pria-wanita terasa lemah. Filmnya hampir terasa datar dan beberapa scene terasa repetitif.

Seperti yang saya tahu wanita-wanita ini berada dalam lingkungan yang jauh dari lingkungan sosial masyarakat kota, beradaptasi dengan lingkungan yang sunyi jauh dari perkotaan, ditambah kecamuk perang sipil yang bergejolak. Rasa paranoid akan keadaan hingga kemunculan sosok McBurney yang identitasnya hanya diketahui dari mulutnya entah benar atau tidak, menambah kecurigaan berdasar, apalagi isu pemerkosaan yang disebut-sebut sering dialami wanita oleh para tentara musuh selama perang semakin membuat sosok pria semakin berbahaya. Tapi, filmnya membaur secara lebih kompleks, kehadiran pria oleh para wanita di film ini memiliki perspektif berbeda saat interaksi dilakukan dengan pria (apalagi tampan) secara langsung dan terbuka, dari yang polos sampai yang genit. Hingga terjadi kedekatan asmara, cinta dan nafsu diantara mereka menimbulkan kecemburuan.


Sayangnya film ini diperburuk oleh naskah cerita, filmnya membingungkan dengan banyaknya kontradiksi yang ada, *SPOILER* semisal identitas McBurney yang samasekali tak pernah diketahui apa ia betul-betul seorang tentara atau bukan, atau perbuatan yang dilakukan Miss Martha sesungguhnya karena paranoid, cemburu atau panik saat memotong kaki McBurney, hingga melakukan pembunuhan keji disertai menyeret para gadis-gadis polos dan tak berdosa untuk melakukan rencana keji tersebut dengan rasa tak berdosa *SPOILER END*. Hasrat dan nafsu yang ditekankan oleh Sofia Coppola terasa lemah dan rasanya Coppola kurang pandai memancing kekacauan dan buruknya pengenalan karakter yang ada. Untungnya akting semacam Nicole Kidman masih mengadiksi melalui tatapan matanya yang tajam, memancing paranoid, otorisasi, penolakan dan kebencian meski kita tahu ia hanya mencoba melindungi para gadis dan sedikitnya selalu bersikap baik dan ramah, entah ia baik atau jahat saya pun kurang mengerti. Kirsten Dunst berlaku pada wanita dewasa yang lemah, mudah diperdaya dan jauh lebih polos dari yang saya duga. Hingga yang tak habis pikir, Elle Fanning tetap harus berkutat dengan akting "liar"-nya selain "20th Century Women" dan "The Neon Demon", but it's okay melihat parasnya yang muda dan cantik, tapi raut wajahnya memang selalu terkesan labil dan sedikit-sedikit horny. Dan Collin Farrell, tipikal pria yang suka memperdaya dan memanfaatkan kelemahan wanita dengan kata-katanya yang manis dan penuh bualan.


Well, saya sempat bingung ketika menyelesaikan film ini dengan penuh tanda tanya, tak mengerti tujuan dari Coppola membuat film ini. Tapi, jika menafsirkan sendiri makna dibalik novel Chullinan sendiri pada dasarnya The Beguiled bercerita tentang manusia dalam sosial selalu merasa bijak dan berperilaku sesuai moral didepan orang lain, memenuhi dan mengajarkan tentang bersikap baik dan sopan, meski itu dalam literasi alkitab maupun buku pedoman, namun ketika dorongan hasrat, cinta dan nafsu memanggil, alam bawah sadar kadang membuat logika menjadi dangkal, hingga sifat manusia yang asli muncul dengan kedok kelemahan dan kebaikan, mungkin dimisalkan para wanita yang diremehkan oleh McBurney. Hanya saja Coppola kurang menggali lebih dalam konflik dan hubungan yang hadir seadanya saja, terkesan Coppola takut mengeksplorasi sisi yang lebih menggigit dari sekedar seorang pria yang mencoba memanipulasi sisi terlemah wanita, meski tata visual vintage terasa cantik dan haunted, sampai tata busana-nya cukup manis untuk ditampilkan. The Beguiled hanya kurang terasa fokus mengalirkan tujuan utamanya, hingga di akhir cerita saya sempat bengong, apakah endingnya hanya begini saja? Jadi apa maknanya?
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Berselang lima tahun dari film terakhir Harry Potter yang dirilis tahun 2011. Menonton Fantastic Beasts and Where to Find Them ini seperti obat rindu baik buat potterheads maupun normal fans seperti saya. Mendapuk kembali David Yates yang telah berhasil membawa empat film terakhirnya Harry Potter and the Order of the Phoenix, Harry Potter and the Half-Blood Prince, Harry Potter and the Deathly Hallows (Part 1, 2) untuk dipercayai menangani kembali dunia imajinasi magis dan liar sang penulis terkenal J.K. Rowling. Fantastic Beasts sendiri merupakan adaptasi dari novel yang sudah lama dirilis Rowling pada tahun 2001. Usut punya usut Fantastic Beasts and Where to Find Theme pernah muncul di adegan film Harry Potter dan merupakan salah satu textbook yang dipakai Harry Potter untuk belajar dan mendalami ilmu sihir di sekolah Hogwarts. Dan pengarang textbook itu sendiri ialah tokoh utama film ini, Newt Scamander. Seorang ahli sihir dibidang Magizoologist (orang yag ahli dibidang hewan-hewan ajaib) yang juga cukup terkenal dan berpengaruh sama seperti Albus Dumbledore.

Di tahun 1926, Newt Scamandaer (Eddie Redmayne) datang ke kota New York dengan menenteng sebuah koper yang berisikan hewan-hewan ajaib yang ia temukan dari hasil berkeliling dunia. Sialnya tanpa sengaja koper yang ia bawa tertukar dengan koper salah seorang no-maj (no magic, manusia yang tak bisa sihir, bila di film Harry Potter sama dengan muggle) bernama Jacob Kowalski (Dan Fogler). Sehingga membuat hewan-hewan tersebut terlepas dan kabur ke dalam kota. Kejadian tersebut disaksikan oleh seorang agen pemerintahan kota sihir, Porpentina Goldstein/Tina (Katherine Waterston) dan segera menahan Newt dan membawanya ke pusat pemerintahan sihir kota New York karena dituduh sengaja melepaskan hewan-hewan ajaib itu agar terjadi kekacauan dan usaha mengungkapkan dunia sihir kepada no-maj. Disaat yang sama kota pun sedang dalam keadaan berbahaya karena mendapatkan ancaman serta serangan dari seorang penyihir jahat bernama Grindelwald.

Sepertinya bukan hal yang sulit lagi buat David Yates mengeksplorasi dunia sihir milik Rowling ketika ia sudah tahu caranya membangun kembali dunia fantasi yang sama seperti Harry Potter. Tentu saja dunia sihir yang begitu menakjubkan ini terasa sangat menyilaukan mata dan punya elemen magis yang benar-benar berhasil membuat decak kagum. Bahkan sesuai dengan judulnya makhluk-makhluk yang bermunculan di film inipun terus-menerus menebar ketakjuban dan keunikan luar biasa. Sebut saja satu makhluk unik bernama niffler mirip hewan platypus yang sangat suka mencuri mengambil barang-barang perhiasan begitu banyak dan mampu memasukkan semuanya kedalam kantung diperut layaknya Doraemon. Dan kemudian hewan-hewan yang tak kalah uniknya kemudian satu-persatu menunjukkan pesonanya.

Tidak hanya itu, cerita film ini terasa kian kompleks ketika ia tidak hanya fokus dengan usaha Newt untuk mengumpulkan kembali fantastic beasts yang kabur darinya. Tapi, ia juga harus berhadapan dengan pemerintahan sihir dikota itu yang juga mengancam dirinya termasuk teror dari penyihir jahat yang ada dikota itu. Tapi, sayangnya meski ia memiliki visual fantastis, meskipun juga pertama kalinya J.K. Rowling sebagai penggarap naskah film ini tidak cukup banyak berperan dalam menggarap kisahnya lebih menempel di ingatan. Nothing special, usaha untuk membuat kisah yang lebih seru dan intens, apalagi ketika ia punya twist, tapi tetap tidak membawa sebuah cerita yang lebih kuat.

Menempatkan empat orang digaris depan cerita namun saya tidak begitu banyak menemukan karakter yang terasa loveable. Bahkan tokoh utama yang diperankan Eddie Redmayne meski aktingnya cukup baik pun kurang mampu menggugah penonton dan perannya sendiri lebih dari sekedar apa adanya. Satu-satunya tokoh yang banyak memberikan perhatian justru Dan Fogler as Kowalski satu-satunya no-maj yang cukup memberi rasa manis. Ia bagai seorang agen penebar senyum tanpa harus banyak berdialog konyol dan cukup dengan mimik wajah sontoloyo nya ia memberi bumbu kisah roman lucu antara Kowalski dan Queenie Goldstein (Alison Sudol).

Fantastic Beasts and Where to Find Them memang sudah berhasil mengobati rasa rindu saya terhadap dunia magic Harry Potter. Memang tidak sefantastis apa yang diharapkan. Bahkan Yates sepertinya lupa untuk memberi sedikit gambaran pada penonton untuk lebih tertarik dan menimbulkan rasa penasaran selanjutnya pada film yang akan memiliki empat sekuel lagi ini. Membuatnya mudah dilupakan dalam waktu dekat. Tapi, meski begitu visual dunia sihir dan keajaiban dunia serta hewan fantastis ini telah berhasil memukau saya berkali-kali. Fantastis, magis, witty dan sweet.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Bercerita tentang seorang laki-laki paruh baya bernama David (Colin Farrell). Nah, Si David ini seorang single alias jomblooo broo (Sama Kayak Gw!), terpaksa mengikuti sebuah kontes mungkin di sebuah hotel dimana dia beserta para jomblowan dan jomblowati harus mencari pasangan hidup. Menariknya, kalau mereka tidak mendapatkan pasangan yang tepat maka dalam waktu kurun 45 hari mereka akan dirubah menjadi hewan (Oh, Shit!?). Dan hewan tersebut adalah sesuai keinginan orang yang dirubah tersebut.

REVIEW:
Jadi, bisa Saya liat sendiri bahwa film ini entah mau disebut aneh atau unik. Dan juga premis ceritanya itu loh yang membuat Saya tertarik menontonnya, ternyata dibalik ini semua ada kesan yang bercampur aduk setelah menonton film ini. Ya, sesampainya si David udah nyampe hotel dan berpartisipasi didalam hotel tersebut, terjadilah hal-hal horor disini.

Horor? Ga salah bang? Beneran?

Ada kesan psikologis di film ini, bagaimana seorang seperti David dan juga peserta dipaksa cari pasangan hidup. Kalau ngga ya itu tadi... Dirubah jadi hewan, karena orang yang tidak sanggup mencari pasangan tidak layak menjadi manusia alias cupu broo!

Bukan hanya itu saja sih yang Saya dapet, selain ide cerita yang menarik. Film ini juga dibalut dengan kesan yang sangat konyol, lucu, serem, romantis, unik, aneh... Seperti permen Nan*-Nan*, rame rasanya.

Dan tidak lupa juga selain karakter utama, tokoh-tokoh yang bermunculan di film ini juga sangat unik.

OVERALL, ini salah satu film dengan daya tarik yang berbeda, menarik, lucu, sekaligus ada kesan serem dan sedikit horor. Pada dasarnya film ini menyinggung bagaimana seorang jomblo itu harus cepat-cepat cari pasangan.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates