• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Sulit menghamparkan lelucon demi lelucon kala kita diajak berbicara tentang kesedihan. Boleh jadi film yang menceritakan soal penyakit mematikan, akan terasa overdramatic. The Big Sick memang terdengar seperti film yang hanya berisikan kesedihan dan duka air mata, tapi justru film ini adalah percikan kompleks dan emosional dalam mengikuti kisah perjalanan cinta komedian sekaligus aktor yang sering terlihat sebagai tokoh sidekick, Kumail Nanjiani bersama sang istri Emily diperankan Zoe Kazan harus menghadapi dilema kisah cinta saat mereka menghadapi perbedaan budaya, agama, dan ras diantara keluarga, hingga kemunculan penyakit yang diderita Emily semakin membuat hubungan mereka semakin terpisah jauh.

Kumail Najiani, mungkin bukan aktor komedian besar dan menarik, terlebih aktingnya yang hanya sedikit mencuri peran sebagai pegawai kantor pos, satpam sekolah, tukang kabel, ataupun tukang pijat mesum sekalipun. Sungguh dia aktor yang sangat tidak penting, tapi Michael Showalter "Hello, My Name is Doris" (2016) selaku sutradara mencoba menerangkan siapa aktor yang selalu muncul sebentar tapi seringkali mencuri atensi. The Big Sick mungkin menjadi film pertama Kumail menjadi karakter sentris sekaligus berakting sebagai dirinya sendiri. Ditulis oleh Kumail sendiri juga istrinya Emily V. Gordon, film ini ternyata tidak sesumbar soal hubungan cinta dan beberapa permasalahan menyangkut penyakit misterius yang menimpa Emily ataupun persinggungan yang terjadi antara keluarga mereka berdua, melainkan sebuah dilema isu yang konteksnya terasa tajam menyampaikan perbedaan kontras yang berseberangan diantara tabrakkan kultur yang ada.


Mungkin memang terkesan generik untuk mengungkapkan bagaimana hubungan cinta Kumail dan Emily ini berawal hingga akhirnya terjadi asmara cinta besar diantara mereka. Dari sebuah pertemuan tak sengaja saat Kumail manggung sebagai stand-up comedian, kemudian terdengar teriakan tiba-tiba Emily yang menyela lelucon Kumail dipertengahan. Hubungan yang bisa dibilang spontan tersebut menjadi timbal balik awal kisah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Tapi, cukup mengesankan bahwa ini masih terasa kisah cinta yang manis, chemistry yang dibangun antara Kumail dan Kazan menghantarkan hubungan yang hangat dan kuat, apalagi saya seolah melihat sosok Emily versi asli pada Kazan, ceria dan energik, meski kadang sikap egosentris diantara keduanya menyebabkan konflik dari setumpuk masalah kebohongan dan ketidakterbukaan Kumail pada Emily. Lalu separuh cerita, diambil alih oleh ayah dan ibu Emily, Beth (Holly Hunter) dan (Ray Romano) pada saat Emily kemudian jatuh koma karena penyakitnya, namun disini pun terbantu karena tanpa diduga mereka berdua pun cukup asyik memadu gesekan keterikatan dengan Kumail, dari benci dan cinta, hingga turut melampiaskan isi hati, kesedihan, ketakutan, dan kegelisahan yang sama saat orang yang mereka cintai terbujur diam dalam koma berhari-hari menghadapi penyakit misterius dan berbahaya.



Dibalik itu juga saya sangat suka cara naskah buatan pasangan suami-istri ini memberikan sentuhan humor hingga mampu membaurkannya bersama emosi, bahkan stereotip terhadap ras dan agama pun disentil melalui keluarga Kumail yang notabene muslim mencoba mencerminkan umat tersebut dalam kebaikan, kelembutan dan juga selera humor yang bagus. Meski seorang Kumail sendiri bukan perspektif religius yang hebat, bahkan ia diterpa kebimbangan kepercayaan, sebagai seorang karakter dibalik wajah menjengkelkan dan flat-face-nya, meski ia melekat sebagai tokoh komikal, tapi naskah cerita juga mencerminkan siapa dirinya tanpa menutup Kumail menjadi orang lain, ia menjadi dirinya sendiri secara natural bahkan sikapnya realistis, care, luwes, sabar dan netral. Bahkan acapkali bercak air mata yang terpantul dari pipinya seolah ia sedang mengenang kembali masa-masa koma Emily yang pernah terbaring 5 tahun lalu. Dari sini pun cukup meyakinkan bahwa dari bingkaian foto masa kecil yang acapkali terpersentasikan melalui cerita, mencerminkan sedikit realita singkat kehidupan Kumail sesungguhnya, dari seorang komedian stand-up biasa, sopir uber, hingga masalah hubungan antara ibunya Sharmeen (Zenobia Shroff), ayahnya Azmat (Anupam Kher), dan saudaranya Naveed (Adeel Akhtar) akibat perbedaan prinsip antara kebebasan dirinya dan kultur keluarga.


Sulit menyebutkan kekurangan yang ada di The Big Sick, dan Amazon harus bersenang hati saat menggelontorkan dana $12 juta dolar untuk mendistribusikan film ini, setelah menjadi salah satu film dengan transaksi terbesar dalam sejarah Sundance Film Festival. Berangkat dari itu, film The Big Sick memang film melodrama yang menyentuh dan breathtaking, tapi satir komedi gelap yang setiap saat terlontar dari mulut para aktornya kadang membawa suasana hangat dan lucu, membuat semuanya melebur menjadi satu dengan emosi penonton. Funny and melancholic, semua pesan cinta dari Kumail dan Emily bagaimana mereka hidup dalam perbedaan, menyentil masalah keluarga, hingga isu ras dan agama yang kadang terdengar tajam seperti teriakan salah satu penonton, "Go back to ISIS." saat Kumail melontarkan lelucon komikanya, kemudian cara mereka melewati hari-hari paling menakutkan dan hopeless, diiringi gejolak emosi yang naik turun seolah inilah salah satu perjuangan nyata dari definisi cinta sesungguhnya. The Big Sick adalah tawaran rom-com luar biasa menarik untuk ditonton.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments


Siapa sih yang tidak takut monster? Monster menurut om 'wiki' adalah "makhluk yang bentuk atau rupanya sangat menyimpang dari yang biasa atau bisa juga makhluk yang berukuran raksasa". Ya, salah satu contohnya adalah "Godzilla". Tapi, mungkin sekarang image godzilla tidak seseram dahulu, apalagi setelah kita sudah menyaksikan salah satu film "Gareth Edwards" yang justru makhluk sebesar itu ada hanya untuk menjaga keseimbangan alam. Tapi, lain cerita dengan "Jurassic World" yang memang cukup berinisiatif memberi banyak teror ketegangan makhluk purbakala yang berbahaya dan juga pintar. Tapi, sebenarnya itu belum cukup menghadirkan gelora kengerian sebenarnya dari yang namanya monster, karena film itupun masih lebih cocok sebagai film sci-fi ketimbang horror. Nah, Film The Monster garapan sutradara Bryan Bertino yang sekaligus merangkap penulis skenario mungkin bukan film besar yang kemarin pernah mampu bercokol masuk dalam tangga box office. Apalagi dengan budget $2,700,000 film ini sedikit tampak murahan. Tapi, ternyata The Monster bukan film biasa, justru film iniah yang kembali menghadirkan kembali sosok monster sebenarnya yang sanggup bikin orang-orang teriak histeris.

Film ini awalnya akan menceritakan tentang hubungan ibu dan anak, yaitu ibu muda bernama Kathy (Zoe Kazan) dan anak gadisnya Lizzy (Ella Ballentine). Meski mereka sedarah sekandung, tapi hubungan Kathy dan Lizzy seperti kakak-beradik yang selalu tidak akur dan sering bertengkar. Ya, ini karena perilaku dan sifat ibunya yang buruk dan disorientasi, dari hobinya merokok hingga menenggak minuman beralkohol. Karena sifat buruk dan kacaunya, maka Kathy yang terlebih dahulu telah berpisah dengan suaminya kini ia pun terpaksa harus berpisah juga dengan Lizzy yang meminta ibunya agar mengantarkannya ke tempat ayahnya di kota.

Tapi, perjalanan mereka yang cukup jauh meski dengan menggunakan mobil, terpaksa harus terhenti ditengah jalan. Karena, mobil yang mereka kendarai kandas setelah hampir menabrak seekor serigala liar yang sedang berdiri di tengah jalan. Karena kondisi mobil yang telah rusak, Kathy dan Lizzy terpaksa berhenti sementara waktu di tengah hutan dan gelap, hingga mereka mencoba meminta bantuan pada petugas montir dan ambulans yang datang menolong. Tapi, sebelum bala bantuan datang, Lizzy mulai merasakan hal ganjil dan aneh perihal serigala yang mati dengan tubuh penuh luka. Hingga akhirnya Lizzy perlahan menyadari ada sesuatu mengintai dan mengancam dirinya dan ibunya dibalik hutan misterius.

Film ini memang cukup berhasil merangkum aspek kengerian dan atmosfer creepy. Dengan hampir seluruh tone hitam dan gelap menyelimuti film ini, memang tampaknya Bertino mencoba meyakinkan penontonnya bahwa film ini akan diselimuti hal-hal misterius dan menyeramkam. Dan soal monster, layaknya film-film medioker, monster di film ini bukan monster yang memang sembarang muncul. Ia sesekali hadir dengan beberapa suara mengeramnya yang mengerikan dan layaknya seekor monster ninja yang mengancam dan berburu secara diam-diam. Kemudian, tiba-tiba selalu ada hal mengejutkan dan tak terduga muncul di sela-sela kepanikan Kathy dan Lizzy yang bersembunyi didalam mobil, hingga saya cukup mengakui jump scare yang dihadirkan Bertino berhasil bikin saya jantungan dan melompat dari kursi. Ya, semacam klaustropobia, tidak bisa kemana-mana, tak bisa apa-apa, hanya bercokol disitu saja sudah cukup Bertino memanen segala hal mengerikan dibalik hutan tersebut.

Apalagi saya cukup impresi dengan keinginan Bertino mencoba lebih pintar dalam bercerita, hingga segala objek benda dari pemantik pun dipakainya sebagai polesan cerita. Ditambah, beberapa ide yang sebetulnya sudah beberapa kali dipakai di film-film horor modern lainnya juga turut dimasukkan oleh Bertino dalam plot ceritanya. Tapi, sayang apa yang dia upayakan untuk mencoba bercerita lebih cerdas malah terlihat agak dangkal dan tidak masuk akal. Ya, ada hal-hal yang memang Bertino tidak cukup menyajikan ceritanya sepintar dan selogis yang penonton terka. Justru hal-hal absurd dan kebodohan-kebodohan karakternya membuat saya bertanya-tanya dan menilai betapa jeleknya naskah yang Bertino buat. Meski tidak semuanya terlihat bodoh, dengan beberapa adegan yang di eksekusi dengan baik, beberapa momen memang tidak membuat film ini benar-benar terjerembab oleh cerita yang foolish-full.

Dan juga film ini tidak sepenuhnya jelek dalam bercerita. Meski Bertino membuat film ini dengan pola alur maju-mundur, dengan flashback cerita yang tiba-tiba muncul ditengah ketegangan dan tensi yang sedang naik. Tapi, sequence itu justru tidak membuyarkan atmosfer yang dibangun, justru sedikit demi sedikit film ini mengungkapkan latar belakang dan proses pendekatan kita pada dua karakternya, Kathy dan Lizzy. Yang justru hal tersebut berhasil membangun cerita yang sebetulnya jika tanpa kisah flashback, mungkin film ini akan terasa monoton tanpa kehadiran sisi personal karakter beserta permasalahan hidupnya. Dimana, ada pengembangan karakter yang tadinya saling membenci, karena beberapa kali momen bisa tercipta hingga menyadari keduanya sebetulnya memiliki ikatan batin antara ibu dan anak yang sesungguhnya tetap saling menyayangi dan mencintai.

Well, The Monster mungkin bukan film yang sempurna dengan segala kekurangan yang masih terasa sangat mencolok. Tapi, jika mencoba mencari-cari film horror monster yang terasa benar-benar bikin mencekik dan bikin panik, mungkin film Bertino salah satu jawabannya. Apalagi film ini juga menawarkan selipan cerita drama yang lebih dewasa dimana menyentil moral dan kehidupan antara ibu dan anak yang terasa sedikit ironis. Dan juga penggambaran bahwa sejahat-jahatnya atau seburuk-buruknya seorang ibu ia tetap menyayangi dan melindungi anaknya yang ia sayangi, dan sebenci-bencinya anak kepada ibu ia juga tetap menyayangi dan mencintai ibunya seperti apapun dia.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates