• Home
  • About
  • Contact
    • Category
    • Category
    • Category
  • Shop
  • Advertise
facebook twitter instagram pinterest bloglovin Email

Movillaz



Bertahan hidup seperti salah satu permainan "The Hunger Games", membunuh atau dibunuh, dalam film berjudul Battle Royale ini tampak mereka hanya remaja sekolah biasa dan tak berdosa. Saat kita mempertanyakan kemana batas moral ketika masa depan mereka harus diperlakukan sekejam ini. Tidak, semenjak narator menjelaskan situasi Jepang yang sudah bobrok soal isu etika dan moral para murid yang memboikot sekolahnya dan melakukan pemberontakkan lewat kekerasan baik kepada guru dan orang tua, ini murni sebuah distopia. Proyeksi kemunduran dan cacat pendidikan di negara Jepang yang terkenal disiplin, kemudian berubah menjadi sungai darah yang mengerikan. Saya hanya tak melihat solusi yang lebih baik ketimbang memilih pembunuhan berdarah semacam ini apalagi dilakukan oleh pemerintah itu sendiri. Tapi, memang melihat latar belakang film ini terasa kurang detil, menyampaikan situasi hanya lewat narasi, yang berarti kita menimbang-nimbang sendiri kenapa instrumen Battle Royale ini dipakai.


Belakangan Battle Royale sempat mendapat larangan dari pihak pemerintahan Jepang saat film ini akan dirilis baik versi film maupun novelnya. Terlibat film ini sangat kontroversial karena melibatkan penghakiman orang tua kepada anak-anak mereka. Tapi, rasanya film ini tetap mampu diedarkan ke khalayak masyarakat dan mereka berbondong-bondong masuk ke bioskop untuk menonton penayangan film ini. Cerita Battle Royale dilatar belakangi satu kelas murid kelas 9 di sebuah sekolah, yang terdiri dari 40 murid yang ikut sebuah wisata liburan. Namun wisata tersebut hanya kedok agar mereka dijebak dan ditawan ke sebuah pulau kecil tak berpenghuni, salah seorang yang mereka kenal sebagai mantan wali kelas mereka Kitano (Takeshi Kitano) menampakkan diri dan mengaku bahwa dia yang membawa semua mantan muridnya ke program revolusioner Battle Royale, permainan yang mengizinkan semua murid untuk saling bunuh selama tiga hari, hingga menyisakan satu orang yang bertahan hidup.



Film ini akan memperkenalkan kita dengan Shuya Nanahara (Tatsuya Fujiwara) dan Noriko Nakagawa (Aki Maeda) sebagai fokus utama, diselingi perkembangan karakter lainnya. Film yang bahkan menjadi salah satu favorit sutradara berkelas Quentin Tarantino ini, memang menyajikan dinamika sosial yang bekerja secara dinamis, kita tidak akan menemukan keseluruhan karakter menyerupai karakter lainnya. Mereka punya pola sendiri-sendiri dalam menyikapi Battle Royale, ada yang memang tampak putus asa, depresi, dan menjadi gila, tapi ada juga yang menyikapinya dengan santai bahkan berusaha untuk tidak terjebak dalam dilema keputusasaan dalam game tersebut, hingga terasa relevan melihat beberapa dari mereka membentuk koalisi mereka sendiri agar terlindung dari ancaman dan lainnya bertahan hidup secara individual. Dan dua orang yang paling menyita perhatian, Shogo Kawada (Taro Yamamoto) dengan bandana dan gaya nyentriknya, dan Kazuo Kiriyama (Masanobu Ando) tampang preman cool dan creepy mirip berandalan di film "Crows Zero", keduanya dianggap sebagai penyeimbang permainan.

Kegilaan di film ini seolah menunjukkan sifat asli manusia, entah beberapa gadis mencoba bertahan hidup selain harus berusaha menjaga diri mereka dari santapan nafsu laki-laki, juga latar belakang sadistik salah satu karakter wanita sosiopat yang sepertinya tidak terlalu memikirkan nyawa yang lainnya. Dan juga beberapa kelompok cerdas dan NERD yang berusaha mencari jalan keluar dengan cara mereka sendiri. Banyak hal yang saya temukan terlibat banyaknya adegan brutal dan berdarah terjadi di film ini, tapi Kinji Fukasaku selaku sutradara terampil mengemas novel Koushun Takami, dibantu penulis naskahnya Kenta Fukasaku dengan sangat baik. Egoisme, kepercayaan, dan loyalitas sepertinya jadi segmen utama dalam film ini, terutama beberapa kali mentengahkan kisah percintaan remaja yang tidak sedikit aksi mengorbankan nyawa mereka didepan kekasihnya. Konyol? Tidak juga, justru ini tampak relatable mengingat mereka terdiri dari laki-laki dan perempuan dalam satu kelas yang sama.


Kekurangan film ini hanya bermasalah pada akting para cast-nya, meski tampak berusaha tampil totalitas, tapi beberapa kali tersangkut masalah gestur dan mimik yang kurang meyakinkan dan kaku, entah apa karena faktor usia mereka yang masih hijau untuk berakting atau karena kesulitan menyaring aktor dan artis yang lebih baik, karena lebih dari 800 aktor dan artis mengikuti audisi untuk bermain sebagai murid yang berjumlah 40 orang. Lebih dari itu Battle Royale sangat luar biasa, jauh lebih baik dibandingkan "The Hunger Games" yang terlalu fokus pada masalah politik dan lemah dalam sekuens aksinya. Bahkan bisa dibilang ini kesekian kalinya setelah beberapa tahun saya kembali menonton film ini untuk menonton versi director's cut-nya, dan ternyata efek kenikmatannya masih terasa segar untuk ditonton kembali.
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments

Disini saya akan membahas 10 Film Terbaik 2000 sebagai awal pembuka era milenium bagi dunia. Sebuah tahap mencengangkan yang juga dirasakan oleh dunia perfilman yang kemudian mencoba bertransformasi menjadi film-film modern seperti sekarang.

By the way, film lawas mungkin memang tidak akan menarik lagi untuk ditonton, tapi bukan berarti bisa dilupakan begitu saja. Beberapa film ternyata masih cukup enjoy untuk ditonton, dan sudah pasti baik penonton awam atau sudah mofreak sekalipun pasti sudah hapal dengan daftar film ini, mari simak daftar "10 Film Terbaik 2000" versi lemonvie berikut:

LIST JUGA DAPAT DILIHAT DI IMDB: (klik disini!)


10. Cast Away - Robert Zemeckis
 
Sebuah survival drama seorang pegawai FedEx, Chuck Noland (Tom Hanks) yang mengalami kecelakaan pesawat dan terpaksa terjebak sendirian di pulau terpencil dan tak berpenghuni di tengah laut. Sebuah film terbaik karya Robert Zemeckis saat seorang manusia mengalami dilema kesepian, putus asa dan depresi saat satu-satunya teman terbaiknya hanyalah sebuah bola voli.


9. X-Men - Bryan Singer
Sebelum universe of Avengers ada, X-Men telah mengambil alih saat Bryan Singer berhasil membuka franchise besar ini dengan kesuksesan. Tidak lain karena ditunjang narasi dan konflik yang sangat kuat, dengan menaburkan berbagai karakter mutant namun dieksekusi secara pas dan konsisten.


8. Almost Famous - Cameron Crowe
Sebuah semi-autobiografi sang sutradara Cameron Crowe. Tentang dunia musik, Rock n Roll, dan gemerlapnya dunia popularitas. Film ini seolah ingin menceritakan pengalaman Crowe sewaktu remaja sebagai seorang jurnalis untuk meliput sebuah band fiksi baru saja tenar untuk majalah popular Rolling Stone.


7. Erin Brockovich - Steven Soderbergh
Jika kamu ingin melihat power of emak-emak sesungguhnya, tontonlah ini. Diambil dari kisah nyata single mother bernama Erin Brockovich (Julia Roberts), pengangguran yang beralih profesi sebagai asisten hukum, berusaha seorang diri membongkar konspirasi perusahaan listrik besar di California yang dituduh telah mencemari persediaan air di kota.


6. Snatch - Guy Ritchie
Salah satu film terbaik Guy Ritchie, sebuah film tentang promotor tinju, para perampok amatir, para penjudi kelas berat, gangster Rusia, pembunuh bayaran, dan penadah berlian Yahudi yang terlibat pencarian sebuah berlian curian yang tak ternilai harganya. Film dengan ritme cepat tapi dengan stylish yang sangat ok, Snatch sebuah dark comedy kental berusaha menceritakan sekelumit aksi kriminal yang seru menyambungkan berbagai plot benang merah yang berkesinambungan.


5. Battle Royale - Kinji Fukasaku
Jika trilogi The Hunger Games masih kurang memuaskanmu bahkan dirasa kurang berdarah. Maka film dari negeri 'matahari terbit' ini layak untuk ditonton. Sebuah film dengan aksi saling bunuh para remaja sekolah ini memang terdengar sensitif dan brutal, tapi jangan salah, berjuang dan bertahan hidup, saling menipu, bahkan beradu skill dan otak, film ini bukan sembarang film tak berakal. Salut dengan naskah pintar dan cermerlang Kinji Fukasaku.


4. Requiem For A Dream - Darren Aronofsky
Obsesi dan adiksi. Requiem For A Dream adalah film yang unsurnya tenggelam dalam depresi dan kehancuran psikologis. Sebuah keterlibatan empat orang yang menjadi gila karena masalah uang, narkoba, cinta dan ketenaran.


3. Crouching Tiger, Hidden Dragon - Ang Lee
Crouching Tiger, Hidden Tiger bukanlah film kung-fu biasa. Film yang melambungkan sutradara Ang Lee ke kancah Internasional dan mampu mengambil hati para juri Oscar dengan mendapatkan 10 kategori nominasi dari empat kemenangan diterimanya. Sinematografi, akting, dan dilema kisah cinta, dengan koreografi pertarungan yang cantik dan mengagumkan, saya rasa tidak ada yang salah jika ini adalah sebuah karya masterpiece dari negeri China.


2. Gladiator - Ridley Scott
Bisa dibilang plot cerita tentang Gladiator ini sederhana, hanya saja cara Ridley Scott mengemas keseluruhan sinematografi, akting dan segala teknis editing film ini diatas rata-rata. Sebuah revenge action skala besar tentang pengkhianatan, kekejaman, kelicikan yang dideterminasi melalui kisah memilukan dan pahit seorang Jendral Perang kekaisaran Roma Marcus Aurelius (Russell Crowe) pada masa keemasan Roma.


1. Memento - Christopher Nolan
Christopher Nolan itu bisa dikatakan jenius karena terampil membuat film-film non-generik. Dan Memento bukti nyata bahwa Nolan bisa membangun narasi cerita yang sederhana menjadi sctructural complex yang luar biasa. Menggunakan alur maju-mundur dengan penceritaan non-linier, plus twist. Tentu saja, tetaplah fokus dan gunakan lebih banyak otakmu agar mampu menerjemahkan keseluruhan cerita film yang mungkin akan membuatmu terus menontonnya berulang-ulang.


Honorable Mention:
American Psycho
Final Destination
Malèna
Mission: Impossible II
Remember the Titans
Unbreakable
 
Share
Tweet
Pin
Share
No Comments
Older Posts

About me

About Me

Mulai gemar menonton banyak genre film sejak 2011, dan menulis blog film sejak 2013. Ini adalah blog ke-2 setelah lemonvie resmi non-aktif

Search

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • Google+
  • pinterest
  • youtube

RATING

  • Average
  • Bad
  • Delicious
  • Fair
  • Good

recent posts

Popular Posts

  • Lady Macbeth (2017) Movie Review
  • Apakah Anime Naruto (Mengecewakan/Memuaskan?)
  • My Cousin Rachel (2017) Movie Review
  • Bumblebee (2018) Movie Review
  • The Battle: Roar to Victory (2019) Movie Review

Sponsor

Arsip Blog

Translate

Created with by ThemeXpose | Distributed by Blogger Templates